Daya Dukung Sedimen Dasar Laut di Perairan Pelabuhan Cirebon dan Sekitarnya

A. Faturachman dan P. Raharjo Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan 236 Bandung - 40174

Daya dukung sedimen dasar laut dan aspek keteknikan pada perencanaan pengembangan pelabuhan Cirebon lebih ditekankan pada faktor geoteknik, geofisika dan oseanografi. Pada saat pasang arah arus cenderung ke arah selatan dan baratdaya, sedangkan pada saat surut cenderung ke arah utara dan timurlaut dengan kecepatan rata-rata maksimum 0.11 m/detik dan minimum 0.08 m/detik. Morfologi dasar laut di perairan pelabuhan Cirebon sangat landai bervariasi antara – 6,5 m (LWS) dan –8.00 m, sedangkan kolamnya sendiri antara 0.00 -2.00 m, Daya dukung tanah pada kedalaman 18.00 – 27.00 m dari LWS di bagian atas diselingi oleh pasir lepas hingga lempung pasiran merupakan tanah bersifat lunak (soft) dengan N SPT = 22 hingga 32 tumbukan (blows). Data sondir di sekitar lokasi dermaga menunjukan nilai harga Qc = 2-4 kg/cm2 pada kedalaman 2.00-11.50 m dan nilai Qc > 150 kg/cm2 dijumpai pada kedalaman 14.00-15.50 m. Sedangkan lapisan bawah di daerah Astanajapura pada kedalaman lebih dari 20.00 meter tertumpu pada pasir, padat, keras, nilai SPT antara 35 hingga lebih dari 50 tumbukan. Analisis mineral lempung yang ada di daerah selidikan memperlihatkan bahwa lempung monmorilonite sangat dominan dan diketahui bahwa tanah yang mengandung monmori

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Pelabuhan Cirebon diklasifikasikan sebagai pelabuhan Indonesia II, merupakan pelabuhan paling besar yang terletak di Jawa Barat dan sekaligus sebagai pintu gerbang keluar masuknya arus komiditi barang ekspor impor yang berfungsi sebagai pusat perdagangan dan industri serta wisatawan domestik maupun asing ke Jawa Barat khususnya Cirebon. Kendala yang dihadapi di kawasan ini adalah daya dukung sedimen di bawah permukaan dasar laut pada kedalaman tertentu tidak mapan. Hal ini disebabkan oleh sifat fisik sedimen yang tidak menunjang. Di lain pihak sungai-sungai yang mengalir umumnya ke laut mengangkut beban sedimen yang cukup tinggi. Hasil survey yang telah dilakukan oleh PT. Pelindo menunjukan bahwa di daerah alur pelayarannya sendiri kadar sedimen dalam air bervariasi antara 11.0 hingga 24.0 mg/l dengan perkiraan laju sedimentasi dalam 6 bulan

adalah sebesar 127.080 m3, terutama di mulut alur dengan pengerukan sedimen setiap 1 atau 2 tahun sekali (PT. Pelindo II, Cirebon, tahun1995).

Maksud dan Tujuan
Kajian aspek geoteknik dan proses sedimentasi pantai perairan Pelabuhan Cirebon, dilaksana-kan dalam rangka pengumpulan data dan informasi geologi, geologi teknik, geofisika dan oseanografi wilayah perairan pantai dan lepas pantai khususnya untuk pengembangan pela-buhan Cirebon dan pesisir pantai (Gambar. 1).
Dari hasil data geologi, geofisika, geoteknik dan oseanografi yang diperoleh akan menjadi acuan bagi perencanaan pembangunan pengembangan pelabuhan dan potensi wilayah pesisir pantai daerah Cirebon dan sekitarnya.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini meliputi penentuan posisi, pengamatan perekaman data geofisika (peme-ruman dan seismik), pengambilan sedimen dasar laut, pemboran teknik dan pengamatan parameter oseanografi. Untuk mendapatkan kedalaman air digunakan metode pemeruman, sedangkan untuk mendapatkan keadaan geologi bawah dasar laut digunakan metode seismik pantul dangkal saluran tunggal. Pemboran teknik dilakukan sebanyak 3 lokasi (BH-1, BH-2, BH-3) DI sekitar daerah perairan pantai Kecamatan Astanajapura (Gambar 1). Total kedalaman mencapai 20.00 m sedangkan untuk menguji jumlah perlawanan konus dan kelekatan tanah itu sendiri dari data bor teknik dan sondir pada kedalaman dangkal. Data bor teknik yang didapat dari PT.Pelindo, Cirebon diperoleh di sekitar Dermaga Cirebon yaitu

lokasi DH-1, DH-2, dan DH-3. Disamping pengambilan contoh tanah terganggu (disturb sample) dilakukan juga pengambilan contoh tanah tidak terganggu (undisturb sample) dari tabung shelby (shelby tube) dan uji insitu SPT (Standar Penetration Test) yang diperoleh pada interval kedalaman tertentu di tiap lokasi. sebanyak 9 buah contoh tabung dari lokasi bor serta contoh sedimen tersebut dinalisis di laboratorium. Untuk mengetahui daya dukung tanah di lapangan, dilakukan uji insitu SPT dengan interval 3 meter, berdasarkan jumlah tumbukan setiap penetrasi kedalaman bor.
Untuk menghitung tinggi muka air rata-rata (mean sea level) di lakukan pengamatan pasang surut selama 15 hari di dermaga pelabuhan Cirebon. Data ini juga digunakan untuk koreksi pembuatan peta batimetri dan titik tetap (benchmark). Data arus yang digunakan sebagai acuan yang lain adalah data untuk mengatahui pola arus permukaan dengan cara pengamatan pergerakan pelampung (float tracking) selama 24 jam. Bersamaan dengan pengamatan tersebut dilakukan pula pengamatan arus pada kedalaman 0.6 hingga 1.8 meter di perairan Citemu, Astanajapura.

ANALISIS LABORATORIUM GEOTEKNIK
Analisis Mineral Lempung

Mineral lempung merupakan hasil pelapukan akibat reaksi kimia yang menghasilkan susunan kelompok pertikel berukuran koloid dengan diameter butiran lebih kecil dari 0.002 mm. Tanah lempung sangat mudah dipengaruhi oleh gaya-gaya permukaan. Jenis mineral yang diklasifikasikan sebagai mineral lempung terdiri dari kelompok motmorillonite, illite, kaolinite, dan polygorskite (Kerr,1959). Analisis tanah lempung dimaksudkan untuk mengetahui kelompok-kelompok dari mineral lempung tersebut.
Preparasi contoh tanah dilakukan dengan pemecahan contoh sesuai pecahan aslinya untuk mendapatkan mikrostrukturnya, dengan memberi lapisan tipis (coating) gold-paladium (Au :80% dan Pd :20%), Dengan menggunakan mesin Ion SputterJFC-1100 dan didapatkan tebal lapisan sebesar 400 amstrong. Lapisan tipis ini menjadi penghantar listrik bila dilakukan pemotretan.

Analisis Mekanika Tanah
Untuk mengetahui lebih rinci mengenai sifat fisik dan keteknikan dari contoh sedimen hasil pemboran inti telah dilakukan beberapa pengujian di laboraturium mekanika tanah meliputi index Properties dan engineering Properties (Terzaghi and Peck, 1967). Pengujian index Properties memberikan informasi sebenarnya dari contoh sedimen terpilih yang mewakili litologi (kadar air, berat satuan, berat jenis, batas Atterberg, ukuran butir, analisis mineral lempung) dari contoh tanah/sedimen pemboran terpilih yang mewakili unit litologi.
Hubungan secara empiris telah dikembangkan antara beberapa index properties dan sifat fisik umum tanah di darat. Sebagian besar hubungan empiris tersebut dapat diterapkan untuk jenis sedimen di laut (terrigenous) karena pada dasarnya jenis sedimen terrigenous tersebut mirip dengan sedimen yang dipasok dari kawasan pantai menuju kawasan laut atau akibat proses susut laut dan genang laut.
Penentuan Kadar Air (Wn %)
Untuk memperoleh nilai kadar yang akurat dibutuhkan koreksi kadar garam yang dimasukkan kedalam persamaan perhitungan kadar air (Wn %) seperti dibawah ini. Oleh karena koreksi kadar garam tersebut relatif kecil maka faktor koreksi ini dapat diabaikan. Untuk menentukan kadar air digunakan rumus :
W2 – W3
Kadar air tanah (W) = ___________ ,
W2 – W3
dimana :
W2 – W3 = berat air
W3 – W1 = berat tanah kering
Cara menentukan kadar air, yaitu dengan menimbang berat tara (W1) kemudian menim-bang berat tara dan contoh tanah (W2) dan simpan di dalam oven pada temperatur 110°C (± 5°C) lebihkurang 8 jam, kemudian berat tara dan contoh tanah ditimbang lagi (W3).
Berat Satuan (γ gr/cm3)
Berat satuan basah dan kering ditentukan dari contoh tanah relatif tak terganggu (undisturb) dengan mengacu kepada aturan uji yaitu ASTM D-2937-76, D-698.
Cara menentukan berat satuan sedimen adalah dengan mengukur berat sedimen yang isinya diketahui dengan menggunakan sebuah cincin yang dimasukan kedalam tanah sampai terisi penuh, kemudian diratakan dan ditimbang.

Berat Jenis (SG)
Ada dua metode yang digunakan untuk menentukan berat jenis, yang pertama adalah untuk sedimen fraksi halus ( lebih kecil dari saringan 4,76 mm) dengan menggunakan metode pignometer yang mengacu pada ASTM D 854-58.
Saat pengujian, terlebih dahulu dilakukan pemisahan kadar garam dari contoh tanah yang bersangkutan. Selanjutnya contoh ditempatkan di atas kertas saringan pada corong Buchner dimana sebelumnya contoh dicuci dengan air.
Berat jenis sedimen dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
(W2 - W1)
Gs =________________________________
(W4 – W1) - (W3 - W2)
Dimana W1 adalah berat picnometer, W2 adalah berat picnometer dan bahan kering, W3 adalah berat picnometer dan air.
Batas Atterberg (LL,PL,PI,LI,SL)

Konsistensi (kekerasan) dan plastistas (kekenyalan) dari tanah lempung maupun dari tanah kohesif (kekompakan) sangat dipengaruhi oleh kadar air tanah. Tanah mungkin akan berbentuk cair, plastis, kurang padat dan padat. Sifat fisik tanah seperti pada batas Atterberg sangat tergantung dari kadar air, jenis tanah dan jenis mineral lempung.
Untuk menentukan batas atterberg tersebut, menghacu pada aturan uji yaitu ASTM D-2937-76, D-4318.
Atterberg (1911), memberikan cara untuk menggambarkan batas-batas sifat fisik atau konsistensi dari tanah berbutir halus dengan mempertimbangkan

Dari persamaan tersebut di atas apabila Wn sama dengan LL, maka indeks cair sama dengan 1, sedang, jika Wn sama dengan PL indeks cair sama dengan 0.Dari formulasi tersebut diatas jika Wn lebih kecil dari pada PL dan Ll maka sedimen bersangkutan adalam kondisi kenyal.
Secara umum nilai indeks cair akan bervariasi antara 0 hingga 1 dan apabila sedimen mempunyai Wn lebih besar dari LL maka indeks cairnya lebih besar dari 1 seperti halnya sedimen permukaan dasar laut di daerah telitian.

HASIL PENELITIAN
Kondisi Angin dan Pasang Surut
Lingkungan pantai dan lepas pantai perairan Cirebon dan sekitarnya secara umum di pengaruhi oleh angin musim barat dan timur yang berlangsung pada bulan Nopember hingga Mei dan dari Juni hingga Oktober, curah hujan berkisar antara 2000 s/d 2500 mm. Sebagian besar curah hujan terjadi pada musim Barat. Arah angin dominan sepanjang tahun yang mempengaruhi pembentukan gelombang laut yang menuju ke arah pantai Teluk Cirebon. Ketinggian gelombang di laut Jawa umumnya disebabkan oleh angin biasanya mencapai lebih dari 2 meter dan merupakan gelombang laut dalam.

Tipe pasang surut perairan Pelabuhan Cirebon termasuk kedalam pasang campuran berganda (mixed tide, predominantly semi diurnal).

Morfologi dan Fluktuasi Arus Dasar Laut

Dari hasil pemeruman yang disajikan dalam peta batimetri. memperlihatkan bahwa kontur kedalaman laut di sekitar daerah penelitian berkisar antara -6.00 m hingga -8.00 m, sedangkan di daerah Astanajapura morfologi dasar laut sangat landai dengan kedalaman dasar laut berkisar –2.00 hingga – 10.00 meter (Gambar 2), Morfologi dasar laut di pelabuhan Cirebon sendiri berundulasi rendah hingga tinggi yang diduga erat kaitannya dengan aktifitas pasang surut di perairan tersebut. Morfologi dasar laut tersebut juga sangat landai, bervariasi antara –6,5 m LWS dan –8.00 m LWS, sedangkan di kolam nya sendiri antara -.00 m – -2.00 m LWS. Morfologi ini ditempati oleh sedimen permukaan dasar laut berupa lanau dan lanau pasiran (lumpur). Ke arah lepas pantai endapan sedimen di dominasi oleh pasir lanauan dengan sebaran yang cukup luas. Dibuktikan dengan hasil analisis contoh air yang diambil dari S. Sukalila, pada saat surut kadar sedimen suspensi mencapai 328,0 mg/l.

Pada saat pasang kadar sedimen suspensi berkisar antara 41.0 s/d 54,0 mg/l dan pada alur pelayaran dalam bervariasi antara 11,0 dan 24,0 mg/l.
Proses sedimentasi yang mencolok dijumpai pada lokasi kira-kira 500 m dari mulut arah luar, yang parah kira-kira sepanjang 1000 s/d 1500 m. Akumulasi sedimen lumpur atau lanau pasiran hingga lempungan mencapai ketebalan 1 hingga 15 m. Kondisi ini berdampak terhadap pendangkalan di sekitar pelabuhan Cirebon. Berdasarkan hasil penelitian dinamika angkutan sedimen yang dilakukan oleh BATAN (1991 dan 1993) perkiraan laju sedimen yang mengisi alur pelayaran selama 6 bulan adalah sebesar 127.080 m3Cirebon. . Dari data yang dibahas sangat berkaitan dengan sistim alur pelayaran di kawasan pelabuhan
Untuk menanggulanginya perlu dilakukan pengerukan dan membuat sistim proteksi gelombang laut disesuaikan dengan pola arus dan arah gelombang yang terjadi di daerah perairan Cirebon. Kondisi ini didukung oleh beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan oleh tim Amdal Pelindo pada bulan Maret 1975 yang berlokasi di muara S. Sukalila dan di perairan alur dalam. Dapat disimpulkan bahwa kecepatan arus bervariasi antara 0.1 s/d 0.7 cm/detik. Kecepatan maksimum terjadi pada saat pasang (spring tide) dengan arah 230oCirebon pada bulan Februari bergerak ke arah tenggara dengan kecepatan 12-25 cm/detik. Pada bulan Oktober arus permukaan bergerak umumnya ke arah utara. Selanjutnya P3GL juga telah melakukan pengukuran arus di lokasi muara Citemu, Astanajapura dengan mengamati pergerakan pelampung dan pengukuran kecepatan arus selama 24 jam pada bulan Mei 2002. dan 45o . Secara umum arus permukaan di perairan Pelabuhan
Dari data arus menunjukan bahwa pada saat pasang kecepatan arus maksimum pada kedalaman 0,6 meter sebesar 0.142 m/detik dan minimum sebesar 0,029 m/det, dengan kecepatan rata-rata adalah sebesar 0,072 m /det.

Sedangkan pada kedalaman 1,78 meter kecepatan maksimum sebesar 0.121 m/detik, minimum sebesar 0,027 m/detik dengan kecepatan rata2 sebesar 0,056 m/detik. Menjelang surut kecepatan arus maksimum pada kedalaman 0,6 meter adalah sebesar 0,116 m/detik, minimum sebesar 0.028 m/detik dengan kecepatan rata-rata 0,075 m/detik, sedangkan pada kedalaman 1,8 m arus maksimum 0,106 m/detk, minimum 0,03 m/detik dengan kecepatan rata-rata 0,055 m/detik. Dari hasil analisis arus permukaan khususnya daerah dekat pantai menunjukkan pola arus permukaan relatif sama dengan pola arah angin dominan yang bertiup di daerah tersebut yaitu berarah timurlaut-baratdaya. Hal ini menunjukkan bahwa selain akibat fluktuasi muka air (pasang surut), pengaruh angin permukaan cukup berperan dalam pembentukan pola arus di daerah ini, faktor lain yang yang mempengaruhi pola arus daerah telitian adalah sirkulasi massa air akibat dari banyaknya sungai yang bermuara di daerah ini.

Daya Dukung Sedimen Dasar Laut

Untuk rencana pengembangan pelabuhan berupa pembangunan infrastruktur daya dukung sedimen dasar laut di daerah pantai dan perairan Cirebon dan sekitarnya mutlak diperlukan. Hal ini dapat di evaluasi dari hasil korelasi pemboran teknik. Dari korelasi ke tiga lokasi bor di daerah Astanajapura (Gambar 3 ) lebih dari 20.00 meter nilai SPT mencapai lebih dari 50 tumbukan ( Tabel 1),

juga hasil di 3 lokasi bor dari data sekunder di daerah kawasan dermaga (Pelindo, 1995). Hasil uji SPT di daerah pelabuhan Cirebon menunjukkan bahwa kontruksi berat dapat diletakkan pada kedalaman lebih besar dari 30 meter, sampai kedalaman 30.00 m, hasil SPT masih relatif kurang stabil terlihat pada kedalaman lebih kecil dari 30 meter sifat fisik tanah relatif lunak. Kondisi ini ditunjukkan oleh nilai SPT seperti pada Tabel 2. Sedangkan pada kedalaman lebih dari 8.00 meter mempunyai nilai Qc dari data sondir berkisar antara 32 kg/cm2 hingga lebih besar 150 kg/cm2 (Tabel 3).

 

Tabel 1. Nilai Standart Penetration Test (SPT) di lokasi BH-1, BH-2 dan BH-3 Perairan Astanajapura, Cirebon-Jawa Barat

Tabel 2. Nilai Standart Penetration Test (SPT) di lokasi BH-1, BH-2 dan BH-3 di Pelabuhan Cirebon-Jawa Barat

 

Tabel 3. Nilai Qc dan lokasi Sondir S1, S2, S3 di Pelabuhan Cirebon-Jawa Barat

Analisis Mineral Lempung

Indeks tanah selain ditentukan oleh proporsi berat fraksi butiran kasar dan halus, juga sangat dipengaruhi oleh jenis dan jumlah mineral lempung penyusun masa tanah. Lempung terbentuk dari batuan sedimen yang dapat berupa endapan residu ataupun endapan sedimen. Endapan residu terbentuk karena adanya pelapukan fisik dan kimia, sedangkan endapan sedimen yang terbentuk karena proses diagenesis. Mineral penyusun batuan asal yang berubah menjadi mineral lempung adalah feldspar ortoklas, feldspar plagioklas, olivin, piroksen, amfibole, dan mika seperti di jumpai dalam foto (Gambar 4). Apabila proses pela-pukan terjadi tidak sempurna pada batuan basa, maka akan terbentuk mineral kaolinit, karena pada lingkungan ini sangat reaktif dan proses pelapukan akan lebih intensif (Humbert, dalam Mhor, 1960), menurut Hardiyatmo (1992) dalam bukunya Mekanika Tanah 1 dan 2.

Analisis mineral lempung penyusun endapan dasar laut di daerah telitian dilakukan dengan menggunakan SEM. Analisa mineral lempung ini dilakukan terhadap tiga contoh sedimen yang mewakili dari pemboran inti dari BH 1 (UD 2) dengan simbol A1 dan A2 (7.50-8.00 m), BH 2 (UD 4) dengan simbol B (15.50-16.00 m), BH 3 (UD 3) dengan simbol C (13.00-13.50 m). Berdasarkan analisis SEM sedimen lempung di daerah umumnya mengandung unsur mineral smectite atau montmorilonit , dan mineral kaolinit. (Tabel 4. ). Lempung smectite (montmorilonit) umumnya tak beraturan (disaveraged), tetapi sebagian menunjukkan orientasi, selain mineral lempung juga hadir mineral lain akan tetap jumlahnya sedikit seperti pirit , hematit (iron oxide), kalsit dan terdapat juga fosil (polen, pecahan foram).. Lempung ini bersifat kurang padat hingga cukup padat, yang menunjukkan bahwa mineral tersebut belum mengalami pembebanan (burial) secara berarti. Lempung ini juga merupakan unsur asli yang diduga berasal dari bahan vulkanik dan diendapkan di lingkungan pengaruh air laut. Lempung kaolinit (vermiculite) merupakan bentukan sekunder dan kebanyakan mempunyai berstruktur buku (book structure). Bentuk kristal kaolinit menunjukkan bahwa kaolinit merupakan bentukan sekunder atau awal diagenesis yang kemungkinan berasal dari pelapukan mineral feldspar. Terdapatnya kaolinit sering terlihat di dalam masa dasar smectite ( montmorilonite ) yang berarti terbentuk setelah keberadaan masa dasar smectite itu sendiri. Hadirnya unsur lain yaitu pirit (framboidal pyrite) dan hematite atau oksida besi (iron oxide), kalsit, dan fosil juga memperkuat dugaan bahwa pengaruh air laut dan bahan organik yaitu pada contoh B dan C menunjukkan adanya reaksi biokimia dan pengaruh sirkulasi udara setelah lempung diendapkan. Kalsit dan cangkang fosil (polen, foram) dapat diamati juga unsur ini memperkuat dugaan bahwa pengendapan lempung dipengaruhi oleh kondisi air laut. Analisis mineral lempung yang ada di daerah telitian memperlihatkan bahwa lempung smectite (montmorilonite) sangat dominan dan menunjukkan bahwa tanah yang mengandung montmorillonit sangat mudah mengembang oleh tambahan kadar air sehingga tekanan pengembangannya dapat merusak struktur bangunan ringan.
Analisis Difraksi Sinar X (XRD)
Hasil XRD endapan dasar laut daerah telitian terdiri dari lempung kaolinit, illit,e dan montmorilonit, mineral kuarsa, klorit,. Hal ini berbeda dengan hasil SEM dimana tidak terlihat adanya lempung illite. Pekerjaan difraksi sinar

 

Analisis mineral lempung penyusun endapan dasar laut di daerah telitian dilakukan dengan menggunakan SEM. Analisa mineral lempung ini dilakukan terhadap tiga contoh sedimen yang mewakili dari pemboran inti dari BH 1 (UD 2) dengan simbol A1 dan A2 (7.50-8.00 m), BH 2 (UD 4) dengan simbol B (15.50-16.00 m), BH 3 (UD 3) dengan simbol C (13.00-13.50 m). Berdasarkan analisis SEM sedimen lempung di daerah umumnya mengandung unsur mineral smectite atau montmorilonit , dan mineral kaolinit. (Tabel 4. ). Lempung smectite (montmorilonit) umumnya tak beraturan (disaveraged), tetapi sebagian menunjukkan orientasi, selain mineral lempung juga hadir mineral lain akan tetap jumlahnya sedikit seperti pirit , hematit (iron oxide), kalsit dan terdapat juga fosil (polen, pecahan foram).. Lempung ini bersifat kurang padat hingga cukup padat, yang menunjukkan bahwa mineral tersebut belum mengalami pembebanan (burial) secara berarti. Lempung ini juga merupakan unsur asli yang diduga berasal dari bahan vulkanik dan diendapkan di lingkungan pengaruh air laut. Lempung kaolinit (vermiculite) merupakan bentukan sekunder dan kebanyakan mempunyai berstruktur buku (book structure). Bentuk kristal kaolinit menunjukkan bahwa kaolinit merupakan bentukan sekunder atau awal diagenesis yang kemungkinan berasal dari pelapukan mineral feldspar. Terdapatnya kaolinit sering terlihat di dalam masa dasar smectite ( montmorilonite ) yang berarti terbentuk setelah keberadaan masa dasar smectite itu sendiri. Hadirnya unsur lain yaitu pirit (framboidal pyrite) dan hematite atau oksida besi (iron oxide), kalsit, dan fosil juga memperkuat dugaan bahwa pengaruh air laut dan bahan organik yaitu pada contoh B dan C menunjukkan adanya reaksi biokimia dan pengaruh sirkulasi udara setelah lempung diendapkan. Kalsit dan cangkang fosil (polen, foram) dapat diamati juga unsur ini memperkuat dugaan bahwa pengendapan lempung dipengaruhi oleh kondisi air laut. Analisis mineral lempung yang ada di daerah telitian memperlihatkan bahwa lempung smectite (montmorilonite) sangat dominan dan menunjukkan bahwa tanah yang mengandung montmorillonit sangat mudah mengembang oleh tambahan kadar air sehingga tekanan pengembangannya dapat merusak struktur bangunan ringan.
Analisis Difraksi Sinar X (XRD)
Hasil XRD endapan dasar laut daerah telitian terdiri dari lempung kaolinit, illit,e dan montmorilonit, mineral kuarsa, klorit,. Hal ini berbeda dengan hasil SEM dimana tidak terlihat adanya lempung illite. Pekerjaan difraksi sinar

 

BH 3 nilai berat satuan tertinggi (1.6180 ton/m3) dipunyai oleh sedimen lempung (CH) pada UD 3, kedalaman 13.00-13.50 m, sedangkan yang terendah (1.3600 ton/m3) dipunyai oleh sedimen lempung (CH) pada UD 2, kedalaman 9.50-10.00 m.

 

 

Dari persamaan menunjukkan bahwa berat volume tanah kering setelah pemadatan bergantung pada jenis tanah, kadar air dan usaha dari alat pemadatnya.
Berat Jenis (SG)
Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, maka nilai berat jenis pada masing–masing lokasi bor dan kedalaman terpilih sebagai berikut :
• BH 1 nilai berat jenis di seluruh contoh tanah sedimen yang terambil berkisar antara 2.5800 hingga 2.6000 gr/cm3.
• BH 2 nilai berat jenis di seluruh contoh tanah sedimen yang terambil berkisar antara 2.5700 hingga 2.6700 6000 gr/cm3.
• BH 3 nilai berat jenis di seluruh contoh tanah sedimen yang terambil berkisar antara 2.5900 hingga 2.6800 gr/cm3.

Berat jenis dari berbagai jenis tanah berkisar antara 2.65 gr/cm3 sampai 2.75 gr/cm3. Nilai berat jenis sebesar 2.67 gr/cm3 biasanya digunakan untuk tanah-tanah tak berkohesi. Sedang untuk tanah kohesif tidak organik berkisar antara 2.68 gr/cm3 sampai 2.72 gr/cm3. Dapat dikatakan bahwa kondisi tanah/sedimen di daerah telitian ada yang bersifat tidak kohesif dan kohesif. Seperti disebutkan diatas bahwa nilai berat jenis ini diperlukan untuk perhitungan pemadatan tanah.

Pengujian Batas-Batas Atterberg
Nilai batas Atterberg pada masing–masing lokasi bor dan kedalaman terpilih sebagai berikut :
Nilai Batas Cair (LL)
Nilai batas cair dan batas plastis tentunya tidak secara langsung dapat dipakai dalam perhitungan (design). Umumnya tanah yang batas cairnya tinggi biasanya mempunyai sifat teknik yang buruk, yaitu kekuatanya rendah,

24 Daya Dukung Sedimen Dasar Laut di Perairan Pelabuhan Cirebon dan Sekitarnya (A. Faturachman, et.al.)
Compressibility-nya tinggi dan sulit dipadatkan (L.D. Wesley, 1977).
Nilai batas cair (LL) di daerah telitian memperlihatkan bahwa pada masing-masing kedalaman dari masing-masing titik bor bervariasi. Pada BH 1 nilai batas cair memiliki rentang 69.50 % - 95.24 %, BH 2 nilai batas cair memiliki rentang 77.95 % - 94.35 %, BH 3 nilai batas cair memiliki rentang 82.50 % - 96.44 %. Hubungan antara nilai batas cair dengan indeks plastisitas secara empiris akan memberikan gambaran.
Nilai Batas Plastis (PL)
Nilai batas plastis (PL) di daerah telitian berbeda pada setiap kedalaman pada masing-masing titik bor. Pada titik BH 1 nilai batas plastis memiliki rentang 34.08 % - 36.25 %, BH 2 nilai batas plastis memiliki rentang 27.67 % - 35.49 %, BH 3 nilai batas plastis memiliki rentang 33.58 % - 38.10 %.
Nilai Indeks Plastisitas (PI)
Indeks plastis akan merupakan interval kadar air dimana tanah masih bersifat plastis. Oleh karena itu indeks plastis mencerminkan kondisi keplastisan tanah/sedimen. Apabila tanah/ sedimen mempunyai interval kadar air di daerah plastisitas yang kecil, maka kondisi tanahnya disebut tanah kurus, dan sebaliknya apabila interval kadar airnya terletak di daerah dengan plastisitas besar disebut tanah gemuk (Hardiyatmo, 1992). Selanjutnya Atterberg (1911) membagi batasan indeks plastis dan macam.
Nilai indeks plastisitas di daerah selidikan berbeda dari masing-masing kedalaman dimana pada BH 1 nilai indeks plastisitas memiliki rentang 33.25 % - 61.16 %, BH 2 nilai indeks plastisitas memiliki rentang 50.28 % - 60.63 %, dan BH 3 nilai indeks plastisitas memiliki rentang 44.40 % - 62.86 %.
Dari nilai indeks plastisitas tersebut diatas menurut Atterberg 1911 dapat dikatakan bahwa jenis tanah lempung lanauan/lempung (CL/CH) di daerah telitian memiliki sifat plastisitas tinggi dan kohesif.
Nilai Indeks Cair (LI)
Di daerah telitian nilai indeks cair berbeda dari masing-masing kedalaman dimana pada BH 1 nilai indeks cair memiliki rentang 1.0273 - 1.1891 , BH 2 nilai indeks cair memiliki rentang 0.5252 - 1.1863 , BH 3 nilai indeks cair memiliki rentang 0.4956 - 1.3603.
Secara umum nilai indeks cair (LI) berkisar antara 0 – 1, jika LI kecil yaitu mendekati nol , maka kemungkinan besar tanah tersebut agak keras dan jika LI besar yaitu mendekati satu maka kemungkinan tanah tersebut adalah tanah lembek.
Dari nilai indeks cair hasil uji laboraturium dapat dikatakan bahwa sebagian besar jenis tanah lempung lanauan/lempung pada BH 1 umumnya bersifat lembek. BH 2 secara keseluruhan jenis tanah lempung lanauan/ lempung bersifat agak keras dan lembek. BH 3 secara keseluruhan jenis tanah lempung lanauan/lempung bersifat lembek dan ada juga bersifat agak keras.

Pengujian Konsolidasi
Penambahan beban di atas suatu permukaan tanah dapat menyebabkan lapisan tanah di bawahnya mengalami pemampatan/perubahan volume. Pengujian konsolidasi ini dilakukan hanya pada contoh tanah/sedimen tidak terganggu (undisturbed sample) dengan maksud mendapatkan harga parametar konsolidasi sesungguhnya. Indeks pemampatan (Cc) ber-hubungan dengan berapa besarnya konsolidasi atau penurunan yang akan terjadi, sedangkan koefisien konsolidasi (Cv) berhubungan dengan berapa lama suatu konsolidasi tertentu akan terjadi. Hasil uji konsolidasi dapat dilihat pada Tabel. 5.
Berdasarkan nilai indeks pemampatan (Cc) dan batas cair (LL), Terzaghi & Peck (1967) memberikan tingkat kompresibilitas tanah, dapat dikatakan bahwa contoh tanah lempung lanauan/lempung (CL/CH) yang diuji memiliki tingkat kompresibilitas tanah yang tinggi. Berdasarkan uji sifat indeks dari contoh pemboran yang lain memperlihatkan pada sedimen dengan fraksi halus yaitu lempung lanauan/lempung (CL/CH) memiliki ciri dan sifat yang sama. Dapat dikatakan bahwa secara umum tanah/sedimen daerah telitian yang berfraksi halus memiliki tingkat kompresibilitas tanah yang tinggi. Selanjutnya data hasil pengujian konsolidasi inii dapat digunakan dalam perhitungan penurunan tanah akibat beban bangunan/pondasi berdasarkan persama-an Skempton dan Bjerrum (1957).
Tabel 5. Hasil uji triaxial di lokasi BH-1, BH-2 dan BH-3 di Perairan Astanajapura, Cirebon-Jawa Barat

 

Pengujian Kuat Geser (Triaxial Compressive Test)
Kuat geser tanah adalah gaya perlawanan yang dilakukan oleh butir-butir tanah terhadap desakan atau tarikan. Dengan dasar pengertian ini, bila tanah mengalami pembebanan akan ditahan oleh kohesi tanah dan tergantung pada

jenis tanah dan kepadatannya, tetapi tidak tergantung dari tegangan vertikal yang bekerja pada bidang gesernya. Gesekan antar butir-butir tanah yang besarnya berbanding lurus dengan tegangan vertikal pada bidang gesernya. Kuat geser tidak memiliki satu nilai tunggal tetapi dilapangan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut : Keadaan tanah, angka pori ukuran butir dan bentuk butir.Jenis tanah seperti, pasir, berpasir, kerikil, lempung, atau jumlah relatif dari bahan-bahan yang ada.Kadar air, terutama untuk lempung (sering berkisar dari sangat lunak sampai kaku, tergantung pada nilai kadar air (W).Jenis beban dan tingkatnya, beban yang cepat akan menghasilkan tekanan pori yang ber-lebih.Anisotropis, kekuatan yang tegak lurus terhadap bidang dasar akan berbeda jika jika dibandingkan dengan kekuatan yang sejajar dengan bidang tersebut. Pengujian triaxial ini dilakukan hanya pada contoh tanah/sedimen tidak terganggu dengan maksud mendapatkan harga parametar konsolidasi sesungguhnya. Data yang diperoleh dari uji kuat geser disajikan dalam bentuk kriteria keruntuhan atau kegagalan Mohr-Coulomb yang tergambar dalam bentuk kurva. Selanjutnya kurva tersebut dapat dipergunakan untuk memperoleh nilai kohesi tanah (c) dan sudut gesek dalam tanah (θ). Hasil uji kuat geser dapat dilihat pada Tabel. 6. Umumnya harga kuat geser ini dapat dikorelasikan terhadap nilai kadar air. Dari data tersebut diatas dapat dikatakan dengan bertambahnya nilai kadar air mengakibatkan terjadinya penurunan kuat geser. Selanjutnya data kuat geser tanah lempung jenuh seperti di daerah telitian dapat dipakai dalam perhitungan daya dukung ultimate pada pondasi bujur sangkar, lingkaran, dan pondasi memanjang berdasarkan persamaan Skempton (1951). Hasil pengujian unconsolidated undrained (UU) digunakan pada kasus dimana kondisi pembebanan terjadi begitu cepat, sehingga belum terjadi konsolidasi atau drainasi pada lapisan tanahnya. Contoh-contoh kondisi tanpa konsolidasi dan tanpa drainasi (UU), yaitu akhir pelaksanaan dari pembangunan bendungan urugan, pondasi untuk tanah timbunan, tiang pancang dan pondasi pada tanah lempung normally consolidated.

PEMBAHASAN
Dari hasil kajian daerah penelitian secara umum dapat di kelompokan menjadi 2 (dua) bagian yang mewakili seluruh daerah penelitian.

I. Kawasan Pelabuhan Cirebon dan Sekitarnya
Lingkungan pantai dan lepas pantai perairan Cirebon mempunyai morfologi dasar laut sangat landai, bervariasi antara –6,5 m LWS dan –8.00 m LWS, sedangkan di kolam nya sendiri antara -.00 m – -2.00 m LWS. Morfologi ini ditempati oleh sedimen permukaan dasar laut berupa lanau dan lanau pasiran (lumpur). Kearah lepas pantai endapan sedimen di dominasi oleh pasir lanauan dengan sebaran yang cukup luas. pada saat surut kadar sedimen suspensi mencapai 328,0 mg/l. Pada saat pasang kadar sedimen suspensi berkisar antara 41.0 s/d 54,0 mg/l dan pada alur pelayaran dalam bervariasi antara 11,0 dan 24,0 mg/l. Proses sedimentasi yang mencolok dijumpai pada lokasi kira-kira 500 m dari mulut arah luar, yang parah kira-kira sepanjang 1000 s/d 1500 m. Akumulasi sedimen lumpur atau lanau pasiran hingga lempungan hiungga mencapai ketebalan 1 hingga 15 m. Kondisi ini berdampak terhadap pendangkalan di sekitar pelabuhan Cirebon. Selama ini perkiraan laju sedimen yang mengisi alur pelayaran selama 6 bulan adalah kuranglebih sebesar 127.080 m3.
Daya dukung tanah dari nilai SPT pada kedalaman lebih dari 30.00 meter kurang begitu menunjang yaitu nilai tumbukan masih berkisar 22-32 tumbukan sehingga beban pondasi berat perlu dipertimbangkan.
Dari data yang dibahas sangat berkaitan dengan sistim alur pelayaran di kawasan pelabuhan Cirebon. Untuk menanggulanginya perlu dilakukan pengerukan dan membuat sistim proteksi gelombang laut disesuaikan dengan pola arus dan arah gelombang yang terdapat di daerah perairan Cirebon.
II. Kawasan Astanajapura dan Sekitarnya
Morfologi dasar laut Astana Japura dan sekitarnya sangat landai dengan kedalaman dasar laut antara - 2,00 m hingga - 10.00 m dari muka air rata-rata (mean sea level). Di daerah ini rencananya akan dibangun pelabuhan baru oleh Pemda Kabupaten Cirebon yang letaknya tidak terlalu jauh dari pelabuhan Nusantara Cirebon yang berjarak kuranglebih 10 km ke arah timur. Saat ini sedang dibangun fasilitas jalan layang dari Palimanan yang dihubungkan dengan Pelabuhan Cirebon. Berdasarkan hasil penelitian bahwa yang menjadi pokok permasalahan adalah proses pendangkalan akibat sedimentasi dari sungai-sungai sekitarnya. Rata-rata kecepatan sedimentasi berdasarkan contoh Pb-01 adalah 1.4 cm/tahun (Raharjo. P, drr, 2002).
Hasil kajian dari aspek daya dukung tanah cukup menunjang bila dilihat dari hasil evaluasi nilai N SPT akan tetapi hal ini perlu dipertimbangkan lebih jauh walaupun daya dukung tanah dibawah dasar laut dari data N (SPT) lebih dari 50 tumbukan. Nilai ini cukup mendukung kontruksi pondasi beban berat bila diletakan pada kedalaman diatas 20.00 m. Tertumpu pada litologi pasir, padat, keras hingga sangat keras, dengan tingkat konsolidasi normal (normally consolidated) dan dari pertimbangan analisis kuat geser perlu di kaji lebih jauh lagi. Hasil analisis mineral lempung yang di lakukan di daerah telitian lokasi bor menunjukkan bahwa lempung smectite (montmorilonite) sangat dominan dan diketahui bahwa tanah yang mengandung montmorillonit sangat mudah mengembang oleh tambahan kadar air, sehingga tekanan pengembangannya dapat memicu amblesan atau penurunan yang akan merusak struktur bangunan ringan dan berat.
Kadar air rendah terdapat pada kedalaman antara 7.00 m hingga 16.00 m sehingga diperlukan pemadatan guna mempertinggi kuat geser tanah, mengurangi sifat mudah mampat mengurangi permeabilitas dan mengurangi perubahan volume sebagai akibat perubahan kadar air. Hasil uji yang telah dilakukan memperlihatkan tanah lempung lanauan (CL) dan lempung (CH) di daerah telitian mempunyai kadar air cukup tinggi. Dari hasil alisis mineral lempung di daerah telitian memperlihatkan bahwa lempung smectite (montmorilonite) sangat dominan dan menunjukkan bahwa tanah yang mengandung montmorillonit sangat mudah mengembang oleh tambahan kadar air sehingga tekanan pengembangannya dapat merusak struktur bangunan ringan. Penambahan beban di atas suatu permukaan tanah dapat menyebabkan lapisan tanah di bawahnya mengalami pemampatan dan perubahan volume.
Selanjutnya data kuat geser tanah lempung jenuh seperti di daerah telitian dapat dipakai dalam perhitungan daya dukung ultimate pada pondasi bujur sangkar, lingkaran, dan pondasi memanjang berdasarkan persamaan Skempton (1951). Hasil pengujian unconsolidated undrained digunakan pada kasus dimana kondisi pembebanan terjadi begitu cepat, sehingga belum terjadi konsolidasi atau drainasi pada lapisan tanahnya. Contoh-contoh kondisi tanpa konsolidasi dan tanpa drainasi (UU), yaitu akhir pelaksanaan dari pembangunan bendungan urugan, pondasi untuk tanah timbunan, tiang pancang dan pondasi pada tanah lempung normally consolidated. Umumnya harga kuat geser ini dapat dikorelasikan terhadap nilai kadar air. Dari data tersebut diatas dapat dikatakan dengan bertambahnya nilai kadar air mengakibatkan terjadinya penurunan kuat geser.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Daerah kawasan daratan pantai pelabuhan secara morfologi merupakan daerah pedataran dengan ketinggian +0.090 m sampai dengan 2,338 m yang terletak di zona dataran pantai utara Jawa Barat. Secara geologi wilayah pantai pelabuhan Cirebon mempunyai litologi endapan alluvial pantai yang terdiri dari selang seling endapan lempung dan pasir. Morfologi dasar laut perairan pelabuhan Cirebon sangat landai dan hingga tinggi yang diduga erat kaitannya dengan aktifitas pasang surut di perairan tersebut. Dengan kedalaman dasar laut antara - 2,00 m hingga - 10.00 m dari muka air rata-rata relief datar hingga bergelombang lemah. Susunan litologi perairan pelabuhan Cirebon dari bawah ke atas antara kedalaman 16.00 m – 22.00 meter di bagian atas terdiri dari lempung pasiran hingga lempung kerikilan dengan ketebalan lapisan 12.00 m – 14.00 m. Lapisan ini mempunyai sifat fisik lunak dengan N SPTsama dengan 1 pada N lebih besar dari 50 tumbukan. Di bagian bawah merupakan tanah yang bersifat tegar (firm) hingga kenyal (stiff) dengan ketebalan antra 3.00 – 10.00 meter disusun oleh lempung lanauan dan lempung pasiran, dengan konsistensi kenyal-sangat kenyal ( stiff to very stiff), nilai N SPT = 10 – 42 tumbukan, ketebalan lapisan 8 m. Di sekitar lokasi dermaga data sondir diperoleh nilai Qc antara 2 – 4 kg/cm2 yang dijumpai pada kedalaman 21.00 – 24.00 m. Lapisan ketiga terletak pada kedalaman > 30 meter pada umumnya lapisan lempung dengan konsistensi sangat kenyal, plastisitas tinggi. Di daerah Astanajapura kondisi litologi atau lapisan sedimen di daerah ini dapat dibagi menjadi 3 (tiga) bagian dari hasil korelasi ke 3 (tiga) lokasi bor yaitu lapisan pertama terletak di bagian paling bawah antara kedalaman 16.00 – 22.00 m dari MSL yang di bagian atas diselingi oleh lempung pasiran (sandy clay) atau lempung kerikilan (gravely clay) dengan ketebalan 12.00 m hingga 14.00 m merupakan tanah konsistensi lunak (soft). Pada kedalaman 16.00 – 18.00 m konsistensi lunak, sedimen lempung , abu-abu kecoklatan, lembab (moist) plastisitas tinggi, agak kenyal (medium stiff), banyak mengandung moluska, merupakan endapan dekat pantai (nearshore deposits). Lapisan ke 3 (tiga) pada kedalaman 0.00 – 10.00 m merupakan lapisan paling atas, disusun oleh lempung lanauan, abu-abu hingga abu kecoklatan hingga kehitaman, jenuh air (saturated), sangat lunak (very soft), mengandung cangkang kerang, moluska dan akar tanaman. Umumnya harga kuat geser ini dapat dikorelasikan terhadap nilai kadar air yaitu dengan bertambahnya nilai kadar air mengakibatkan terjadinya penurunan kuat geser. Selanjutnya data kuat geser tanah lempung jenuh seperti di daerah telitian dapat dipakai dalam perhitungan daya dukung ultimate pada pondasi bujur sangkar, lingkaran, dan pondasi memanjang berdasarkan persamaan Skempton (1951). Hasil pengujian unconsolidated undrained (UU) digunakan pada kasus dimana kondisi pembebanan terjadi begitu cepat, sehingga belum terjadi konsolidasi atau drainasi pada lapisan tanahnya.

Saran

Di kawasan Pelabuhan Cirebon perlu dilakukan pemboran teknik yang penetrasi kedalamannya lebih dalam lagi terutama untuk mengetahui daya dukung tanah yang nilai SPTnya lebih dari 50 tumbukan yang dianggap cukup menunjang untuk beban konstruksi pondasi bangunan berat. Untuk mengantisipasi sedimentasi hendaknya dibangun penahan gelombang (sea wall), Pier atau bronjong kawat,. baik di kawasan pelabuhan Cirebon maupun di Astanajapura dengan posisi sesuai dengan pola arah arus setempat. Untuk itu perlu dilakukan penelitian oseanografi lebih rinci. Dari hasil analisis mineral lempung memper-lihatkan bahwa lempung smectite (montmo-rilonite) sangat dominan dan diketahui bahwa tanah yang mengandung montmorillonit sangat mudah mengembang oleh tambahan kadar air sehingga tekanan pengembangannya dapat memicu amblesan atau penurunan (subsidence/ settlement) yang akan merusak struktur bangunan ringan dan berat. Oleh karena itu perlu dikaji lebih rinci lagi analisis mineral lempungnya. Berdasarkan nilai indeks pemampatan (Cc) dan batas cair (LL), dapat dikatakan bahwa secara umum tanah/sedimen daerah selidikan yang berfraksi halus memiliki tingkat kompresibilitas tanah yang tinggi. Pengujian konsolidasi dapat digunakan untuk menghitung penurunan tanah akibat beban bangunan/pondasi berdasarkan persamaan Skempton dan Bjerrum (1957).

A. Faturachman dan P. Raharjo Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan 236 Bandung - 40174

Daya dukung sedimen dasar laut dan aspek keteknikan pada perencanaan pengembangan pelabuhan Cirebon lebih ditekankan pada faktor geoteknik, geofisika dan oseanografi. Pada saat pasang arah arus cenderung ke arah selatan dan baratdaya, sedangkan pada saat surut cenderung ke arah utara dan timurlaut dengan kecepatan rata-rata maksimum 0.11 m/detik dan minimum 0.08 m/detik. Morfologi dasar laut di perairan pelabuhan Cirebon sangat landai bervariasi antara – 6,5 m (LWS) dan –8.00 m, sedangkan kolamnya sendiri antara 0.00 -2.00 m, Daya dukung tanah pada kedalaman 18.00 – 27.00 m dari LWS di bagian atas diselingi oleh pasir lepas hingga lempung pasiran merupakan tanah bersifat lunak (soft) dengan N SPT = 22 hingga 32 tumbukan (blows). Data sondir di sekitar lokasi dermaga menunjukan nilai harga Qc = 2-4 kg/cm2 pada kedalaman 2.00-11.50 m dan nilai Qc > 150 kg/cm2 dijumpai pada kedalaman 14.00-15.50 m. Sedangkan lapisan bawah di daerah Astanajapura pada kedalaman lebih dari 20.00 meter tertumpu pada pasir, padat, keras, nilai SPT antara 35 hingga lebih dari 50 tumbukan. Analisis mineral lempung yang ada di daerah selidikan memperlihatkan bahwa lempung monmorilonite sangat dominan dan diketahui bahwa tanah yang mengandung monmori
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pelabuhan Cirebon diklasifikasikan sebagai pelabuhan Indonesia II, merupakan pelabuhan paling besar yang terletak di Jawa Barat dan sekaligus sebagai pintu gerbang keluar masuknya arus komiditi barang ekspor impor yang berfungsi sebagai pusat perdagangan dan industri serta wisatawan domestik maupun asing ke Jawa Barat khususnya Cirebon. Kendala yang dihadapi di kawasan ini adalah daya dukung sedimen di bawah permukaan dasar laut pada kedalaman tertentu tidak mapan. Hal ini disebabkan oleh sifat fisik sedimen yang tidak menunjang. Di lain pihak sungai-sungai yang mengalir umumnya ke laut mengangkut beban sedimen yang cukup tinggi. Hasil survey yang telah dilakukan oleh PT. Pelindo menunjukan bahwa di daerah alur pelayarannya sendiri kadar sedimen dalam air bervariasi antara 11.0 hingga 24.0 mg/l dengan perkiraan laju sedimentasi dalam 6 bulan

adalah sebesar 127.080 m3, terutama di mulut alur dengan pengerukan sedimen setiap 1 atau 2 tahun sekali (PT. Pelindo II, Cirebon, tahun1995).

Maksud dan Tujuan
Kajian aspek geoteknik dan proses sedimentasi pantai perairan Pelabuhan Cirebon, dilaksana-kan dalam rangka pengumpulan data dan informasi geologi, geologi teknik, geofisika dan oseanografi wilayah perairan pantai dan lepas pantai khususnya untuk pengembangan pela-buhan Cirebon dan pesisir pantai (Gambar. 1).
Dari hasil data geologi, geofisika, geoteknik dan oseanografi yang diperoleh akan menjadi acuan bagi perencanaan pembangunan pengembangan pelabuhan dan potensi wilayah pesisir pantai daerah Cirebon dan sekitarnya.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini meliputi penentuan posisi, pengamatan perekaman data geofisika (peme-ruman dan seismik), pengambilan sedimen dasar laut, pemboran teknik dan pengamatan parameter oseanografi. Untuk mendapatkan kedalaman air digunakan metode pemeruman, sedangkan untuk mendapatkan keadaan geologi bawah dasar laut digunakan metode seismik pantul dangkal saluran tunggal. Pemboran teknik dilakukan sebanyak 3 lokasi (BH-1, BH-2, BH-3) DI sekitar daerah perairan pantai Kecamatan Astanajapura (Gambar 1). Total kedalaman mencapai 20.00 m sedangkan untuk menguji jumlah perlawanan konus dan kelekatan tanah itu sendiri dari data bor teknik dan sondir pada kedalaman dangkal. Data bor teknik yang didapat dari PT.Pelindo, Cirebon diperoleh di sekitar Dermaga Cirebon yaitu

lokasi DH-1, DH-2, dan DH-3. Disamping pengambilan contoh tanah terganggu (disturb sample) dilakukan juga pengambilan contoh tanah tidak terganggu (undisturb sample) dari tabung shelby (shelby tube) dan uji insitu SPT (Standar Penetration Test) yang diperoleh pada interval kedalaman tertentu di tiap lokasi. sebanyak 9 buah contoh tabung dari lokasi bor serta contoh sedimen tersebut dinalisis di laboratorium. Untuk mengetahui daya dukung tanah di lapangan, dilakukan uji insitu SPT dengan interval 3 meter, berdasarkan jumlah tumbukan setiap penetrasi kedalaman bor.
Untuk menghitung tinggi muka air rata-rata (mean sea level) di lakukan pengamatan pasang surut selama 15 hari di dermaga pelabuhan Cirebon. Data ini juga digunakan untuk koreksi pembuatan peta batimetri dan titik tetap (benchmark). Data arus yang digunakan sebagai acuan yang lain adalah data untuk mengatahui pola arus permukaan dengan cara pengamatan pergerakan pelampung (float tracking) selama 24 jam. Bersamaan dengan pengamatan tersebut dilakukan pula pengamatan arus pada kedalaman 0.6 hingga 1.8 meter di perairan Citemu, Astanajapura.

ANALISIS LABORATORIUM GEOTEKNIK
Analisis Mineral Lempung

Mineral lempung merupakan hasil pelapukan akibat reaksi kimia yang menghasilkan susunan kelompok pertikel berukuran koloid dengan diameter butiran lebih kecil dari 0.002 mm. Tanah lempung sangat mudah dipengaruhi oleh gaya-gaya permukaan. Jenis mineral yang diklasifikasikan sebagai mineral lempung terdiri dari kelompok motmorillonite, illite, kaolinite, dan polygorskite (Kerr,1959). Analisis tanah lempung dimaksudkan untuk mengetahui kelompok-kelompok dari mineral lempung tersebut.
Preparasi contoh tanah dilakukan dengan pemecahan contoh sesuai pecahan aslinya untuk mendapatkan mikrostrukturnya, dengan memberi lapisan tipis (coating) gold-paladium (Au :80% dan Pd :20%), Dengan menggunakan mesin Ion SputterJFC-1100 dan didapatkan tebal lapisan sebesar 400 amstrong. Lapisan tipis ini menjadi penghantar listrik bila dilakukan pemotretan.

Analisis Mekanika Tanah
Untuk mengetahui lebih rinci mengenai sifat fisik dan keteknikan dari contoh sedimen hasil pemboran inti telah dilakukan beberapa pengujian di laboraturium mekanika tanah meliputi index Properties dan engineering Properties (Terzaghi and Peck, 1967). Pengujian index Properties memberikan informasi sebenarnya dari contoh sedimen terpilih yang mewakili litologi (kadar air, berat satuan, berat jenis, batas Atterberg, ukuran butir, analisis mineral lempung) dari contoh tanah/sedimen pemboran terpilih yang mewakili unit litologi.
Hubungan secara empiris telah dikembangkan antara beberapa index properties dan sifat fisik umum tanah di darat. Sebagian besar hubungan empiris tersebut dapat diterapkan untuk jenis sedimen di laut (terrigenous) karena pada dasarnya jenis sedimen terrigenous tersebut mirip dengan sedimen yang dipasok dari kawasan pantai menuju kawasan laut atau akibat proses susut laut dan genang laut.
Penentuan Kadar Air (Wn %)
Untuk memperoleh nilai kadar yang akurat dibutuhkan koreksi kadar garam yang dimasukkan kedalam persamaan perhitungan kadar air (Wn %) seperti dibawah ini. Oleh karena koreksi kadar garam tersebut relatif kecil maka faktor koreksi ini dapat diabaikan. Untuk menentukan kadar air digunakan rumus :
W2 – W3
Kadar air tanah (W) = ___________ ,
W2 – W3
dimana :
W2 – W3 = berat air
W3 – W1 = berat tanah kering
Cara menentukan kadar air, yaitu dengan menimbang berat tara (W1) kemudian menim-bang berat tara dan contoh tanah (W2) dan simpan di dalam oven pada temperatur 110°C (± 5°C) lebihkurang 8 jam, kemudian berat tara dan contoh tanah ditimbang lagi (W3).
Berat Satuan (γ gr/cm3)
Berat satuan basah dan kering ditentukan dari contoh tanah relatif tak terganggu (undisturb) dengan mengacu kepada aturan uji yaitu ASTM D-2937-76, D-698.
Cara menentukan berat satuan sedimen adalah dengan mengukur berat sedimen yang isinya diketahui dengan menggunakan sebuah cincin yang dimasukan kedalam tanah sampai terisi penuh, kemudian diratakan dan ditimbang.

Berat Jenis (SG)
Ada dua metode yang digunakan untuk menentukan berat jenis, yang pertama adalah untuk sedimen fraksi halus ( lebih kecil dari saringan 4,76 mm) dengan menggunakan metode pignometer yang mengacu pada ASTM D 854-58.
Saat pengujian, terlebih dahulu dilakukan pemisahan kadar garam dari contoh tanah yang bersangkutan. Selanjutnya contoh ditempatkan di atas kertas saringan pada corong Buchner dimana sebelumnya contoh dicuci dengan air.
Berat jenis sedimen dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
(W2 - W1)
Gs =________________________________
(W4 – W1) - (W3 - W2)
Dimana W1 adalah berat picnometer, W2 adalah berat picnometer dan bahan kering, W3 adalah berat picnometer dan air.
Batas Atterberg (LL,PL,PI,LI,SL)

Konsistensi (kekerasan) dan plastistas (kekenyalan) dari tanah lempung maupun dari tanah kohesif (kekompakan) sangat dipengaruhi oleh kadar air tanah. Tanah mungkin akan berbentuk cair, plastis, kurang padat dan padat. Sifat fisik tanah seperti pada batas Atterberg sangat tergantung dari kadar air, jenis tanah dan jenis mineral lempung.
Untuk menentukan batas atterberg tersebut, menghacu pada aturan uji yaitu ASTM D-2937-76, D-4318.
Atterberg (1911), memberikan cara untuk menggambarkan batas-batas sifat fisik atau konsistensi dari tanah berbutir halus dengan mempertimbangkan

Dari persamaan tersebut di atas apabila Wn sama dengan LL, maka indeks cair sama dengan 1, sedang, jika Wn sama dengan PL indeks cair sama dengan 0.Dari formulasi tersebut diatas jika Wn lebih kecil dari pada PL dan Ll maka sedimen bersangkutan adalam kondisi kenyal.
Secara umum nilai indeks cair akan bervariasi antara 0 hingga 1 dan apabila sedimen mempunyai Wn lebih besar dari LL maka indeks cairnya lebih besar dari 1 seperti halnya sedimen permukaan dasar laut di daerah telitian.

HASIL PENELITIAN
Kondisi Angin dan Pasang Surut
Lingkungan pantai dan lepas pantai perairan Cirebon dan sekitarnya secara umum di pengaruhi oleh angin musim barat dan timur yang berlangsung pada bulan Nopember hingga Mei dan dari Juni hingga Oktober, curah hujan berkisar antara 2000 s/d 2500 mm. Sebagian besar curah hujan terjadi pada musim Barat. Arah angin dominan sepanjang tahun yang mempengaruhi pembentukan gelombang laut yang menuju ke arah pantai Teluk Cirebon. Ketinggian gelombang di laut Jawa umumnya disebabkan oleh angin biasanya mencapai lebih dari 2 meter dan merupakan gelombang laut dalam.

Tipe pasang surut perairan Pelabuhan Cirebon termasuk kedalam pasang campuran berganda (mixed tide, predominantly semi diurnal).

Morfologi dan Fluktuasi Arus Dasar Laut

Dari hasil pemeruman yang disajikan dalam peta batimetri. memperlihatkan bahwa kontur kedalaman laut di sekitar daerah penelitian berkisar antara -6.00 m hingga -8.00 m, sedangkan di daerah Astanajapura morfologi dasar laut sangat landai dengan kedalaman dasar laut berkisar –2.00 hingga – 10.00 meter (Gambar 2), Morfologi dasar laut di pelabuhan Cirebon sendiri berundulasi rendah hingga tinggi yang diduga erat kaitannya dengan aktifitas pasang surut di perairan tersebut. Morfologi dasar laut tersebut juga sangat landai, bervariasi antara –6,5 m LWS dan –8.00 m LWS, sedangkan di kolam nya sendiri antara -.00 m – -2.00 m LWS. Morfologi ini ditempati oleh sedimen permukaan dasar laut berupa lanau dan lanau pasiran (lumpur). Ke arah lepas pantai endapan sedimen di dominasi oleh pasir lanauan dengan sebaran yang cukup luas. Dibuktikan dengan hasil analisis contoh air yang diambil dari S. Sukalila, pada saat surut kadar sedimen suspensi mencapai 328,0 mg/l.

Pada saat pasang kadar sedimen suspensi berkisar antara 41.0 s/d 54,0 mg/l dan pada alur pelayaran dalam bervariasi antara 11,0 dan 24,0 mg/l.
Proses sedimentasi yang mencolok dijumpai pada lokasi kira-kira 500 m dari mulut arah luar, yang parah kira-kira sepanjang 1000 s/d 1500 m. Akumulasi sedimen lumpur atau lanau pasiran hingga lempungan mencapai ketebalan 1 hingga 15 m. Kondisi ini berdampak terhadap pendangkalan di sekitar pelabuhan Cirebon. Berdasarkan hasil penelitian dinamika angkutan sedimen yang dilakukan oleh BATAN (1991 dan 1993) perkiraan laju sedimen yang mengisi alur pelayaran selama 6 bulan adalah sebesar 127.080 m3Cirebon. . Dari data yang dibahas sangat berkaitan dengan sistim alur pelayaran di kawasan pelabuhan
Untuk menanggulanginya perlu dilakukan pengerukan dan membuat sistim proteksi gelombang laut disesuaikan dengan pola arus dan arah gelombang yang terjadi di daerah perairan Cirebon. Kondisi ini didukung oleh beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan oleh tim Amdal Pelindo pada bulan Maret 1975 yang berlokasi di muara S. Sukalila dan di perairan alur dalam. Dapat disimpulkan bahwa kecepatan arus bervariasi antara 0.1 s/d 0.7 cm/detik. Kecepatan maksimum terjadi pada saat pasang (spring tide) dengan arah 230oCirebon pada bulan Februari bergerak ke arah tenggara dengan kecepatan 12-25 cm/detik. Pada bulan Oktober arus permukaan bergerak umumnya ke arah utara. Selanjutnya P3GL juga telah melakukan pengukuran arus di lokasi muara Citemu, Astanajapura dengan mengamati pergerakan pelampung dan pengukuran kecepatan arus selama 24 jam pada bulan Mei 2002. dan 45o . Secara umum arus permukaan di perairan Pelabuhan
Dari data arus menunjukan bahwa pada saat pasang kecepatan arus maksimum pada kedalaman 0,6 meter sebesar 0.142 m/detik dan minimum sebesar 0,029 m/det, dengan kecepatan rata-rata adalah sebesar 0,072 m /det.

Sedangkan pada kedalaman 1,78 meter kecepatan maksimum sebesar 0.121 m/detik, minimum sebesar 0,027 m/detik dengan kecepatan rata2 sebesar 0,056 m/detik. Menjelang surut kecepatan arus maksimum pada kedalaman 0,6 meter adalah sebesar 0,116 m/detik, minimum sebesar 0.028 m/detik dengan kecepatan rata-rata 0,075 m/detik, sedangkan pada kedalaman 1,8 m arus maksimum 0,106 m/detk, minimum 0,03 m/detik dengan kecepatan rata-rata 0,055 m/detik. Dari hasil analisis arus permukaan khususnya daerah dekat pantai menunjukkan pola arus permukaan relatif sama dengan pola arah angin dominan yang bertiup di daerah tersebut yaitu berarah timurlaut-baratdaya. Hal ini menunjukkan bahwa selain akibat fluktuasi muka air (pasang surut), pengaruh angin permukaan cukup berperan dalam pembentukan pola arus di daerah ini, faktor lain yang yang mempengaruhi pola arus daerah telitian adalah sirkulasi massa air akibat dari banyaknya sungai yang bermuara di daerah ini.

Daya Dukung Sedimen Dasar Laut

Untuk rencana pengembangan pelabuhan berupa pembangunan infrastruktur daya dukung sedimen dasar laut di daerah pantai dan perairan Cirebon dan sekitarnya mutlak diperlukan. Hal ini dapat di evaluasi dari hasil korelasi pemboran teknik. Dari korelasi ke tiga lokasi bor di daerah Astanajapura (Gambar 3 ) lebih dari 20.00 meter nilai SPT mencapai lebih dari 50 tumbukan ( Tabel 1),

juga hasil di 3 lokasi bor dari data sekunder di daerah kawasan dermaga (Pelindo, 1995). Hasil uji SPT di daerah pelabuhan Cirebon menunjukkan bahwa kontruksi berat dapat diletakkan pada kedalaman lebih besar dari 30 meter, sampai kedalaman 30.00 m, hasil SPT masih relatif kurang stabil terlihat pada kedalaman lebih kecil dari 30 meter sifat fisik tanah relatif lunak. Kondisi ini ditunjukkan oleh nilai SPT seperti pada Tabel 2. Sedangkan pada kedalaman lebih dari 8.00 meter mempunyai nilai Qc dari data sondir berkisar antara 32 kg/cm2 hingga lebih besar 150 kg/cm2 (Tabel 3).

Tabel 1. Nilai Standart Penetration Test (SPT) di lokasi BH-1, BH-2 dan BH-3 Perairan Astanajapura, Cirebon-Jawa Barat

Tabel 2. Nilai Standart Penetration Test (SPT) di lokasi BH-1, BH-2 dan BH-3 di Pelabuhan Cirebon-Jawa Barat

Tabel 3. Nilai Qc dan lokasi Sondir S1, S2, S3 di Pelabuhan Cirebon-Jawa Barat

Analisis Mineral Lempung

Indeks tanah selain ditentukan oleh proporsi berat fraksi butiran kasar dan halus, juga sangat dipengaruhi oleh jenis dan jumlah mineral lempung penyusun masa tanah. Lempung terbentuk dari batuan sedimen yang dapat berupa endapan residu ataupun endapan sedimen. Endapan residu terbentuk karena adanya pelapukan fisik dan kimia, sedangkan endapan sedimen yang terbentuk karena proses diagenesis. Mineral penyusun batuan asal yang berubah menjadi mineral lempung adalah feldspar ortoklas, feldspar plagioklas, olivin, piroksen, amfibole, dan mika seperti di jumpai dalam foto (Gambar 4). Apabila proses pela-pukan terjadi tidak sempurna pada batuan basa, maka akan terbentuk mineral kaolinit, karena pada lingkungan ini sangat reaktif dan proses pelapukan akan lebih intensif (Humbert, dalam Mhor, 1960), menurut Hardiyatmo (1992) dalam bukunya Mekanika Tanah 1 dan 2.

Analisis mineral lempung penyusun endapan dasar laut di daerah telitian dilakukan dengan menggunakan SEM. Analisa mineral lempung ini dilakukan terhadap tiga contoh sedimen yang mewakili dari pemboran inti dari BH 1 (UD 2) dengan simbol A1 dan A2 (7.50-8.00 m), BH 2 (UD 4) dengan simbol B (15.50-16.00 m), BH 3 (UD 3) dengan simbol C (13.00-13.50 m). Berdasarkan analisis SEM sedimen lempung di daerah umumnya mengandung unsur mineral smectite atau montmorilonit , dan mineral kaolinit. (Tabel 4. ). Lempung smectite (montmorilonit) umumnya tak beraturan (disaveraged), tetapi sebagian menunjukkan orientasi, selain mineral lempung juga hadir mineral lain akan tetap jumlahnya sedikit seperti pirit , hematit (iron oxide), kalsit dan terdapat juga fosil (polen, pecahan foram).. Lempung ini bersifat kurang padat hingga cukup padat, yang menunjukkan bahwa mineral tersebut belum mengalami pembebanan (burial) secara berarti. Lempung ini juga merupakan unsur asli yang diduga berasal dari bahan vulkanik dan diendapkan di lingkungan pengaruh air laut. Lempung kaolinit (vermiculite) merupakan bentukan sekunder dan kebanyakan mempunyai berstruktur buku (book structure). Bentuk kristal kaolinit menunjukkan bahwa kaolinit merupakan bentukan sekunder atau awal diagenesis yang kemungkinan berasal dari pelapukan mineral feldspar. Terdapatnya kaolinit sering terlihat di dalam masa dasar smectite ( montmorilonite ) yang berarti terbentuk setelah keberadaan masa dasar smectite itu sendiri. Hadirnya unsur lain yaitu pirit (framboidal pyrite) dan hematite atau oksida besi (iron oxide), kalsit, dan fosil juga memperkuat dugaan bahwa pengaruh air laut dan bahan organik yaitu pada contoh B dan C menunjukkan adanya reaksi biokimia dan pengaruh sirkulasi udara setelah lempung diendapkan. Kalsit dan cangkang fosil (polen, foram) dapat diamati juga unsur ini memperkuat dugaan bahwa pengendapan lempung dipengaruhi oleh kondisi air laut. Analisis mineral lempung yang ada di daerah telitian memperlihatkan bahwa lempung smectite (montmorilonite) sangat dominan dan menunjukkan bahwa tanah yang mengandung montmorillonit sangat mudah mengembang oleh tambahan kadar air sehingga tekanan pengembangannya dapat merusak struktur bangunan ringan.
Analisis Difraksi Sinar X (XRD)
Hasil XRD endapan dasar laut daerah telitian terdiri dari lempung kaolinit, illit,e dan montmorilonit, mineral kuarsa, klorit,. Hal ini berbeda dengan hasil SEM dimana tidak terlihat adanya lempung illite. Pekerjaan difraksi sinar

BH 3 nilai berat satuan tertinggi (1.6180 ton/m3) dipunyai oleh sedimen lempung (CH) pada UD 3, kedalaman 13.00-13.50 m, sedangkan yang terendah (1.3600 ton/m3) dipunyai oleh sedimen lempung (CH) pada UD 2, kedalaman 9.50-10.00 m.

Dari persamaan menunjukkan bahwa berat volume tanah kering setelah pemadatan bergantung pada jenis tanah, kadar air dan usaha dari alat pemadatnya.
Berat Jenis (SG)
Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, maka nilai berat jenis pada masing–masing lokasi bor dan kedalaman terpilih sebagai berikut :
• BH 1 nilai berat jenis di seluruh contoh tanah sedimen yang terambil berkisar antara 2.5800 hingga 2.6000 gr/cm3.
• BH 2 nilai berat jenis di seluruh contoh tanah sedimen yang terambil berkisar antara 2.5700 hingga 2.6700 6000 gr/cm3.
• BH 3 nilai berat jenis di seluruh contoh tanah sedimen yang terambil berkisar antara 2.5900 hingga 2.6800 gr/cm3.

Berat jenis dari berbagai jenis tanah berkisar antara 2.65 gr/cm3 sampai 2.75 gr/cm3. Nilai berat jenis sebesar 2.67 gr/cm3 biasanya digunakan untuk tanah-tanah tak berkohesi. Sedang untuk tanah kohesif tidak organik berkisar antara 2.68 gr/cm3 sampai 2.72 gr/cm3. Dapat dikatakan bahwa kondisi tanah/sedimen di daerah telitian ada yang bersifat tidak kohesif dan kohesif. Seperti disebutkan diatas bahwa nilai berat jenis ini diperlukan untuk perhitungan pemadatan tanah.

Pengujian Batas-Batas Atterberg
Nilai batas Atterberg pada masing–masing lokasi bor dan kedalaman terpilih sebagai berikut :
Nilai Batas Cair (LL)
Nilai batas cair dan batas plastis tentunya tidak secara langsung dapat dipakai dalam perhitungan (design). Umumnya tanah yang batas cairnya tinggi biasanya mempunyai sifat teknik yang buruk, yaitu kekuatanya rendah,

24 Daya Dukung Sedimen Dasar Laut di Perairan Pelabuhan Cirebon dan Sekitarnya (A. Faturachman, et.al.)
Compressibility-nya tinggi dan sulit dipadatkan (L.D. Wesley, 1977).
Nilai batas cair (LL) di daerah telitian memperlihatkan bahwa pada masing-masing kedalaman dari masing-masing titik bor bervariasi. Pada BH 1 nilai batas cair memiliki rentang 69.50 % - 95.24 %, BH 2 nilai batas cair memiliki rentang 77.95 % - 94.35 %, BH 3 nilai batas cair memiliki rentang 82.50 % - 96.44 %. Hubungan antara nilai batas cair dengan indeks plastisitas secara empiris akan memberikan gambaran.
Nilai Batas Plastis (PL)
Nilai batas plastis (PL) di daerah telitian berbeda pada setiap kedalaman pada masing-masing titik bor. Pada titik BH 1 nilai batas plastis memiliki rentang 34.08 % - 36.25 %, BH 2 nilai batas plastis memiliki rentang 27.67 % - 35.49 %, BH 3 nilai batas plastis memiliki rentang 33.58 % - 38.10 %.
Nilai Indeks Plastisitas (PI)
Indeks plastis akan merupakan interval kadar air dimana tanah masih bersifat plastis. Oleh karena itu indeks plastis mencerminkan kondisi keplastisan tanah/sedimen. Apabila tanah/ sedimen mempunyai interval kadar air di daerah plastisitas yang kecil, maka kondisi tanahnya disebut tanah kurus, dan sebaliknya apabila interval kadar airnya terletak di daerah dengan plastisitas besar disebut tanah gemuk (Hardiyatmo, 1992). Selanjutnya Atterberg (1911) membagi batasan indeks plastis dan macam.
Nilai indeks plastisitas di daerah selidikan berbeda dari masing-masing kedalaman dimana pada BH 1 nilai indeks plastisitas memiliki rentang 33.25 % - 61.16 %, BH 2 nilai indeks plastisitas memiliki rentang 50.28 % - 60.63 %, dan BH 3 nilai indeks plastisitas memiliki rentang 44.40 % - 62.86 %.
Dari nilai indeks plastisitas tersebut diatas menurut Atterberg 1911 dapat dikatakan bahwa jenis tanah lempung lanauan/lempung (CL/CH) di daerah telitian memiliki sifat plastisitas tinggi dan kohesif.
Nilai Indeks Cair (LI)
Di daerah telitian nilai indeks cair berbeda dari masing-masing kedalaman dimana pada BH 1 nilai indeks cair memiliki rentang 1.0273 - 1.1891 , BH 2 nilai indeks cair memiliki rentang 0.5252 - 1.1863 , BH 3 nilai indeks cair memiliki rentang 0.4956 - 1.3603.
Secara umum nilai indeks cair (LI) berkisar antara 0 – 1, jika LI kecil yaitu mendekati nol , maka kemungkinan besar tanah tersebut agak keras dan jika LI besar yaitu mendekati satu maka kemungkinan tanah tersebut adalah tanah lembek.
Dari nilai indeks cair hasil uji laboraturium dapat dikatakan bahwa sebagian besar jenis tanah lempung lanauan/lempung pada BH 1 umumnya bersifat lembek. BH 2 secara keseluruhan jenis tanah lempung lanauan/ lempung bersifat agak keras dan lembek. BH 3 secara keseluruhan jenis tanah lempung lanauan/lempung bersifat lembek dan ada juga bersifat agak keras.

Pengujian Konsolidasi
Penambahan beban di atas suatu permukaan tanah dapat menyebabkan lapisan tanah di bawahnya mengalami pemampatan/perubahan volume. Pengujian konsolidasi ini dilakukan hanya pada contoh tanah/sedimen tidak terganggu (undisturbed sample) dengan maksud mendapatkan harga parametar konsolidasi sesungguhnya. Indeks pemampatan (Cc) ber-hubungan dengan berapa besarnya konsolidasi atau penurunan yang akan terjadi, sedangkan koefisien konsolidasi (Cv) berhubungan dengan berapa lama suatu konsolidasi tertentu akan terjadi. Hasil uji konsolidasi dapat dilihat pada Tabel. 5.
Berdasarkan nilai indeks pemampatan (Cc) dan batas cair (LL), Terzaghi & Peck (1967) memberikan tingkat kompresibilitas tanah, dapat dikatakan bahwa contoh tanah lempung lanauan/lempung (CL/CH) yang diuji memiliki tingkat kompresibilitas tanah yang tinggi. Berdasarkan uji sifat indeks dari contoh pemboran yang lain memperlihatkan pada sedimen dengan fraksi halus yaitu lempung lanauan/lempung (CL/CH) memiliki ciri dan sifat yang sama. Dapat dikatakan bahwa secara umum tanah/sedimen daerah telitian yang berfraksi halus memiliki tingkat kompresibilitas tanah yang tinggi. Selanjutnya data hasil pengujian konsolidasi inii dapat digunakan dalam perhitungan penurunan tanah akibat beban bangunan/pondasi berdasarkan persama-an Skempton dan Bjerrum (1957).
Tabel 5. Hasil uji triaxial di lokasi BH-1, BH-2 dan BH-3 di Perairan Astanajapura, Cirebon-Jawa Barat

Pengujian Kuat Geser (Triaxial Compressive Test)
Kuat geser tanah adalah gaya perlawanan yang dilakukan oleh butir-butir tanah terhadap desakan atau tarikan. Dengan dasar pengertian ini, bila tanah mengalami pembebanan akan ditahan oleh kohesi tanah dan tergantung pada

jenis tanah dan kepadatannya, tetapi tidak tergantung dari tegangan vertikal yang bekerja pada bidang gesernya. Gesekan antar butir-butir tanah yang besarnya berbanding lurus dengan tegangan vertikal pada bidang gesernya. Kuat geser tidak memiliki satu nilai tunggal tetapi dilapangan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut : Keadaan tanah, angka pori ukuran butir dan bentuk butir.Jenis tanah seperti, pasir, berpasir, kerikil, lempung, atau jumlah relatif dari bahan-bahan yang ada.Kadar air, terutama untuk lempung (sering berkisar dari sangat lunak sampai kaku, tergantung pada nilai kadar air (W).Jenis beban dan tingkatnya, beban yang cepat akan menghasilkan tekanan pori yang ber-lebih.Anisotropis, kekuatan yang tegak lurus terhadap bidang dasar akan berbeda jika jika dibandingkan dengan kekuatan yang sejajar dengan bidang tersebut. Pengujian triaxial ini dilakukan hanya pada contoh tanah/sedimen tidak terganggu dengan maksud mendapatkan harga parametar konsolidasi sesungguhnya. Data yang diperoleh dari uji kuat geser disajikan dalam bentuk kriteria keruntuhan atau kegagalan Mohr-Coulomb yang tergambar dalam bentuk kurva. Selanjutnya kurva tersebut dapat dipergunakan untuk memperoleh nilai kohesi tanah (c) dan sudut gesek dalam tanah (θ). Hasil uji kuat geser dapat dilihat pada Tabel. 6. Umumnya harga kuat geser ini dapat dikorelasikan terhadap nilai kadar air. Dari data tersebut diatas dapat dikatakan dengan bertambahnya nilai kadar air mengakibatkan terjadinya penurunan kuat geser. Selanjutnya data kuat geser tanah lempung jenuh seperti di daerah telitian dapat dipakai dalam perhitungan daya dukung ultimate pada pondasi bujur sangkar, lingkaran, dan pondasi memanjang berdasarkan persamaan Skempton (1951). Hasil pengujian unconsolidated undrained (UU) digunakan pada kasus dimana kondisi pembebanan terjadi begitu cepat, sehingga belum terjadi konsolidasi atau drainasi pada lapisan tanahnya. Contoh-contoh kondisi tanpa konsolidasi dan tanpa drainasi (UU), yaitu akhir pelaksanaan dari pembangunan bendungan urugan, pondasi untuk tanah timbunan, tiang pancang dan pondasi pada tanah lempung normally consolidated.

PEMBAHASAN
Dari hasil kajian daerah penelitian secara umum dapat di kelompokan menjadi 2 (dua) bagian yang mewakili seluruh daerah penelitian.

I. Kawasan Pelabuhan Cirebon dan Sekitarnya
Lingkungan pantai dan lepas pantai perairan Cirebon mempunyai morfologi dasar laut sangat landai, bervariasi antara –6,5 m LWS dan –8.00 m LWS, sedangkan di kolam nya sendiri antara -.00 m – -2.00 m LWS. Morfologi ini ditempati oleh sedimen permukaan dasar laut berupa lanau dan lanau pasiran (lumpur). Kearah lepas pantai endapan sedimen di dominasi oleh pasir lanauan dengan sebaran yang cukup luas. pada saat surut kadar sedimen suspensi mencapai 328,0 mg/l. Pada saat pasang kadar sedimen suspensi berkisar antara 41.0 s/d 54,0 mg/l dan pada alur pelayaran dalam bervariasi antara 11,0 dan 24,0 mg/l. Proses sedimentasi yang mencolok dijumpai pada lokasi kira-kira 500 m dari mulut arah luar, yang parah kira-kira sepanjang 1000 s/d 1500 m. Akumulasi sedimen lumpur atau lanau pasiran hingga lempungan hiungga mencapai ketebalan 1 hingga 15 m. Kondisi ini berdampak terhadap pendangkalan di sekitar pelabuhan Cirebon. Selama ini perkiraan laju sedimen yang mengisi alur pelayaran selama 6 bulan adalah kuranglebih sebesar 127.080 m3.
Daya dukung tanah dari nilai SPT pada kedalaman lebih dari 30.00 meter kurang begitu menunjang yaitu nilai tumbukan masih berkisar 22-32 tumbukan sehingga beban pondasi berat perlu dipertimbangkan.
Dari data yang dibahas sangat berkaitan dengan sistim alur pelayaran di kawasan pelabuhan Cirebon. Untuk menanggulanginya perlu dilakukan pengerukan dan membuat sistim proteksi gelombang laut disesuaikan dengan pola arus dan arah gelombang yang terdapat di daerah perairan Cirebon.
II. Kawasan Astanajapura dan Sekitarnya
Morfologi dasar laut Astana Japura dan sekitarnya sangat landai dengan kedalaman dasar laut antara - 2,00 m hingga - 10.00 m dari muka air rata-rata (mean sea level). Di daerah ini rencananya akan dibangun pelabuhan baru oleh Pemda Kabupaten Cirebon yang letaknya tidak terlalu jauh dari pelabuhan Nusantara Cirebon yang berjarak kuranglebih 10 km ke arah timur. Saat ini sedang dibangun fasilitas jalan layang dari Palimanan yang dihubungkan dengan Pelabuhan Cirebon. Berdasarkan hasil penelitian bahwa yang menjadi pokok permasalahan adalah proses pendangkalan akibat sedimentasi dari sungai-sungai sekitarnya. Rata-rata kecepatan sedimentasi berdasarkan contoh Pb-01 adalah 1.4 cm/tahun (Raharjo. P, drr, 2002).
Hasil kajian dari aspek daya dukung tanah cukup menunjang bila dilihat dari hasil evaluasi nilai N SPT akan tetapi hal ini perlu dipertimbangkan lebih jauh walaupun daya dukung tanah dibawah dasar laut dari data N (SPT) lebih dari 50 tumbukan. Nilai ini cukup mendukung kontruksi pondasi beban berat bila diletakan pada kedalaman diatas 20.00 m. Tertumpu pada litologi pasir, padat, keras hingga sangat keras, dengan tingkat konsolidasi normal (normally consolidated) dan dari pertimbangan analisis kuat geser perlu di kaji lebih jauh lagi. Hasil analisis mineral lempung yang di lakukan di daerah telitian lokasi bor menunjukkan bahwa lempung smectite (montmorilonite) sangat dominan dan diketahui bahwa tanah yang mengandung montmorillonit sangat mudah mengembang oleh tambahan kadar air, sehingga tekanan pengembangannya dapat memicu amblesan atau penurunan yang akan merusak struktur bangunan ringan dan berat.
Kadar air rendah terdapat pada kedalaman antara 7.00 m hingga 16.00 m sehingga diperlukan pemadatan guna mempertinggi kuat geser tanah, mengurangi sifat mudah mampat mengurangi permeabilitas dan mengurangi perubahan volume sebagai akibat perubahan kadar air. Hasil uji yang telah dilakukan memperlihatkan tanah lempung lanauan (CL) dan lempung (CH) di daerah telitian mempunyai kadar air cukup tinggi. Dari hasil alisis mineral lempung di daerah telitian memperlihatkan bahwa lempung smectite (montmorilonite) sangat dominan dan menunjukkan bahwa tanah yang mengandung montmorillonit sangat mudah mengembang oleh tambahan kadar air sehingga tekanan pengembangannya dapat merusak struktur bangunan ringan. Penambahan beban di atas suatu permukaan tanah dapat menyebabkan lapisan tanah di bawahnya mengalami pemampatan dan perubahan volume.
Selanjutnya data kuat geser tanah lempung jenuh seperti di daerah telitian dapat dipakai dalam perhitungan daya dukung ultimate pada pondasi bujur sangkar, lingkaran, dan pondasi memanjang berdasarkan persamaan Skempton (1951). Hasil pengujian unconsolidated undrained digunakan pada kasus dimana kondisi pembebanan terjadi begitu cepat, sehingga belum terjadi konsolidasi atau drainasi pada lapisan tanahnya. Contoh-contoh kondisi tanpa konsolidasi dan tanpa drainasi (UU), yaitu akhir pelaksanaan dari pembangunan bendungan urugan, pondasi untuk tanah timbunan, tiang pancang dan pondasi pada tanah lempung normally consolidated. Umumnya harga kuat geser ini dapat dikorelasikan terhadap nilai kadar air. Dari data tersebut diatas dapat dikatakan dengan bertambahnya nilai kadar air mengakibatkan terjadinya penurunan kuat geser.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Daerah kawasan daratan pantai pelabuhan secara morfologi merupakan daerah pedataran dengan ketinggian +0.090 m sampai dengan 2,338 m yang terletak di zona dataran pantai utara Jawa Barat. Secara geologi wilayah pantai pelabuhan Cirebon mempunyai litologi endapan alluvial pantai yang terdiri dari selang seling endapan lempung dan pasir. Morfologi dasar laut perairan pelabuhan Cirebon sangat landai dan hingga tinggi yang diduga erat kaitannya dengan aktifitas pasang surut di perairan tersebut. Dengan kedalaman dasar laut antara - 2,00 m hingga - 10.00 m dari muka air rata-rata relief datar hingga bergelombang lemah. Susunan litologi perairan pelabuhan Cirebon dari bawah ke atas antara kedalaman 16.00 m – 22.00 meter di bagian atas terdiri dari lempung pasiran hingga lempung kerikilan dengan ketebalan lapisan 12.00 m – 14.00 m. Lapisan ini mempunyai sifat fisik lunak dengan N SPTsama dengan 1 pada N lebih besar dari 50 tumbukan. Di bagian bawah merupakan tanah yang bersifat tegar (firm) hingga kenyal (stiff) dengan ketebalan antra 3.00 – 10.00 meter disusun oleh lempung lanauan dan lempung pasiran, dengan konsistensi kenyal-sangat kenyal ( stiff to very stiff), nilai N SPT = 10 – 42 tumbukan, ketebalan lapisan 8 m. Di sekitar lokasi dermaga data sondir diperoleh nilai Qc antara 2 – 4 kg/cm2 yang dijumpai pada kedalaman 21.00 – 24.00 m. Lapisan ketiga terletak pada kedalaman > 30 meter pada umumnya lapisan lempung dengan konsistensi sangat kenyal, plastisitas tinggi. Di daerah Astanajapura kondisi litologi atau lapisan sedimen di daerah ini dapat dibagi menjadi 3 (tiga) bagian dari hasil korelasi ke 3 (tiga) lokasi bor yaitu lapisan pertama terletak di bagian paling bawah antara kedalaman 16.00 – 22.00 m dari MSL yang di bagian atas diselingi oleh lempung pasiran (sandy clay) atau lempung kerikilan (gravely clay) dengan ketebalan 12.00 m hingga 14.00 m merupakan tanah konsistensi lunak (soft). Pada kedalaman 16.00 – 18.00 m konsistensi lunak, sedimen lempung , abu-abu kecoklatan, lembab (moist) plastisitas tinggi, agak kenyal (medium stiff), banyak mengandung moluska, merupakan endapan dekat pantai (nearshore deposits). Lapisan ke 3 (tiga) pada kedalaman 0.00 – 10.00 m merupakan lapisan paling atas, disusun oleh lempung lanauan, abu-abu hingga abu kecoklatan hingga kehitaman, jenuh air (saturated), sangat lunak (very soft), mengandung cangkang kerang, moluska dan akar tanaman. Umumnya harga kuat geser ini dapat dikorelasikan terhadap nilai kadar air yaitu dengan bertambahnya nilai kadar air mengakibatkan terjadinya penurunan kuat geser. Selanjutnya data kuat geser tanah lempung jenuh seperti di daerah telitian dapat dipakai dalam perhitungan daya dukung ultimate pada pondasi bujur sangkar, lingkaran, dan pondasi memanjang berdasarkan persamaan Skempton (1951). Hasil pengujian unconsolidated undrained (UU) digunakan pada kasus dimana kondisi pembebanan terjadi begitu cepat, sehingga belum terjadi konsolidasi atau drainasi pada lapisan tanahnya.

Saran

Di kawasan Pelabuhan Cirebon perlu dilakukan pemboran teknik yang penetrasi kedalamannya lebih dalam lagi terutama untuk mengetahui daya dukung tanah yang nilai SPTnya lebih dari 50 tumbukan yang dianggap cukup menunjang untuk beban konstruksi pondasi bangunan berat. Untuk mengantisipasi sedimentasi hendaknya dibangun penahan gelombang (sea wall), Pier atau bronjong kawat,. baik di kawasan pelabuhan Cirebon maupun di Astanajapura dengan posisi sesuai dengan pola arah arus setempat. Untuk itu perlu dilakukan penelitian oseanografi lebih rinci. Dari hasil analisis mineral lempung memper-lihatkan bahwa lempung smectite (montmo-rilonite) sangat dominan dan diketahui bahwa tanah yang mengandung montmorillonit sangat mudah mengembang oleh tambahan kadar air sehingga tekanan pengembangannya dapat memicu amblesan atau penurunan (subsidence/ settlement) yang akan merusak struktur bangunan ringan dan berat. Oleh karena itu perlu dikaji lebih rinci lagi analisis mineral lempungnya. Berdasarkan nilai indeks pemampatan (Cc) dan batas cair (LL), dapat dikatakan bahwa secara umum tanah/sedimen daerah selidikan yang berfraksi halus memiliki tingkat kompresibilitas tanah yang tinggi. Pengujian konsolidasi dapat digunakan untuk menghitung penurunan tanah akibat beban bangunan/pondasi berdasarkan persamaan Skempton dan Bjerrum (1957).

DAFTAR PUSTAKA Faturachman A., Raharjo P., Rahardiawan R., Purwanto C., Noviadi Y., 2002, Kajian Proses Sedimentasi Pelabuhan Cirebon, Jawa Barat. Laporan intern

 

 

 

 

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish

Who's online

There are currently 0 users and 0 guests online.

Tugas

Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan mempunyai tugas melaksanakan penelitian, pengembangan, perekayasaan, pengkajian, survei dan pemetaan bidang geologi kelautan.

RSS Feed

Syndicate content

Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No. 18 Tahun 2010, tanggal 22 November 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, PPPGL merupakan salah satu unit yang berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral.  Struktur organisasi PPPGL terdiri dari :

  1. Bagian Tata Usaha;
  2. Bidang Program;
  3. Bidang Penyelenggaraan dan Sarana Penelitian dan Pengembangan;
  4. Bidang Afiliasi dan Informasi; dan
  5. Kelompok Jabatan Fungsional.

Kelompok Pelaksana Penelitian dan Pengembangan ( KP3 ) terdiri dari :

  • KP3  Pemetaan Geologi Kelautan
  • KP3 Sumber Daya Mineral Kelautan
  • KP3 Sumber Daya Energi Kelautan
  • KP3 Geologi Lingkungan dan Kewilayahan Pantai dan Laut.

Kalender Kegiatan

  • No upcoming events available