LOKASI PENGENDAPAN AKHIR DAN EVALUASI PENGELOLAAN LUMPUR PORONG

Ediar Usman, M. Salahuddin, DAS. Ranawijaya dan Juniar P. Hutagaol.- Puslitbang Geologi Kelautan

Hingga saat ini kandungan lumpur panas Sidoarjo dalam tanggul pengaman sudah mencapai lebih 6 juta m3, volume semburan setiap hari sudah mencapai 126.000 m3, daerah luberan sudah mencapai 400 ha dan hingga akhir September 2006 paling kurang telah terjadi 9 kali luberan lumpur akibat jebolnya tanggul pengaman. Desa yang terendam mencapai 8 desa, yaitu: Siring, Kedungbendo, Jatirejo, Renokenongo, Pajarakan, Mindi, Besuki dan Kedungcangkring. Seluruhnya telah dinyatakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sidoarjo tidak layak huni. Jika dilihat secara periodik, dari waktu ke waktu, maka kondisi daerah luberan lumpur Sidoarjo makin meluas dan makin tidak terkendali. Pertanyaan saat adalah sampai kapan kondisi ini akan berlanjut. Memang sulit ditebak, dari underground blowout ke fenomena mud volcano dan sekarang telah menjadi daerah rawan bencana, belum ada tindakan pengelolaan lumpur dan penetapan zona bencana. Dengan penetapan sebagai daerah rawan bencana maka dengan sendirinya daerah sekitar semburan merupakan daerah yang harus dikosongkan termasuk aktivitas relief well, dan sebelum pengosongan perlu upaya penataan luberan lumpur dan pengamanan desa secara parmanen pulaLumpur Porong bersifat mobile, karena hampir 70% adalah air dan hanya 30% adalah padatan, sehingga perkiraan akan membentuk kerucut gunung lumpur hampir tidak mungkin terjadi. Kegiatan yang harus dilakukan adalah bagaimana pengelolaan wilayah semburan dan pengelolaan lumpur/air lumpur yang terus menumpuk tersebut agar dapat memberi nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan. Kandungan lumpur panas di Kec. Porong, Sidoarjo telah berada pada tahap yang mencemaskan. Dari hari ke hari volume lumpur panas di dalam tanggul penampungan terus bertambah dan kondisi tanggul juga makin tidak kuat menahan tekanan lumpur, karena tanggul memang dirancang dalam keadaan darurat, dan untuk sementara. Namun yang terjadi saat ini adalah belum ada keputusan tentang upaya pengelolaan dan penempatan secara parmanen dari lumpur tersebut, walaupun pemerintah sudah menetapkan daerah Semburan Lumpur Porong, Sidoarjo sebagai daerah rawan bencana (Hazard Potential Area. Disamping itu, hingga detik ini penderitaan masyarakat Sidoarjo makin tak berujung, hidup di tenda evakuasi menderita lahir batin, sampai kapankah?. Inilah pertanyaan mendasar yang menjadi tanggung jawab bersama. Bila tidak, maka penderitaan tak berujung masyarakat Porong dan sekitarnya tersebut tak pernah ada solusinya. Padahal sudah jelas, nyawa manusia jauh lebih penting dari nyawa ikan di Selat Madura. Pandangan para ahli dari lembaga pemerintah dan organisasi profesi terkait, sudah banyak disampaikan di berbagai forum. Bahkan berbagai lembaga dan organisasi profesi telah melakukan berbagai analisia, kajian dan pemodelan secara mandiri mengenai lumpur Porong. Beberapa kesimpulan tentang lumpur porong adalah lumpur dan air lumpur tidak berbahaya, karena hasil analisis di laboratorium menunjukkan bahwa unsur-unsur di dalam lumpur dan air lumpur berada di bawah mutu yang ditetapkan pemerintah (Pudjiastuti, 2006). Sebagaimana ketetapan Pemerintah yang diumumkan pada tanggal 27 September 2006, daerah Porong Sidoarjo dinyatakan sebagai daerah rawan bencana (Kompas, 28 September 2006). Jika kondisi saat ini adalah sebagai daerah rawan bencana, maka daerah Porong dan sekitarnya sekaligus adalah daerah tidak layak dihuni atau dijadikan tempat tinggal dan bermukim. Masyarakat Porong sejak diumumkan sebagai daerah rawan bencana sudah harus melupakan desa dan rumah mereka, dan untuk itu relokasi penduduk pada saat ini juga harus segera dilakukan. Jika daerah Porong sudah menjadi daerah rawan bencana, maka tentunya daerah tersebut harus kosong dari aktifitas manusia, karena sewaktu-waktu bencana yang dapat merusak dan mematikan benar-benar dapat terjadi. Tugas saat ini adalah mengendalikan wilayah agar bencana dan dampak bencana tidak meluas. dua pilihan, yaitu: (1) pengelolaan dan pengendalian lumpur Porong agar meluber dan mengalir secara terkendali ke lokasi parmanen dan (2) merelokasi masyarakat sekitar semburan ke tempat yang layak dan aman secara parmanen.
Namun jika pilihannya adalah membiarkan lumpur Porong ke luar secara alamiah, menumpuk dan mengalir, maka saat ini penduduk di sekitar semburan harus segera dipindahkan dan dicarikan lokasi tempat tinggal dan hidup secara parmanen juga. Mengapa demikian, karena semburan yang terjadi sudah dipandang sebagai gejala alam yang mungkin akan berlangsung lebih lama. Disamping itu, wilayah sekitar semburan yang menjadi tempat tinggal masyarakat untuk hari-hari kedepan tidak lagi memenuhi pernyaratan untuk menjadi tempat tinggal. Dinyatakan atau tidak, faktanya adalah daerah sekitar semburan tersebut telah menjadi daerah bencana. Bencana yang benar-benar terjadi adalah rumah, infrastruktur dan lahan pertanian telah tertutup lumpur dan dimasa mendatang ”environmental recovery” makin sulit dilakukan, apalagi ”social recovery” memerlukan waktu yang panjang 2. KONDISI FISIK DAERAH PORONG DAN SEKITARNYA 2.1. Topografi Daerah Porong dan Morfologi Selat Madura Topografi daerah Porong dan sekitarnya merupakan daerah rawa yang berair sepanjang tahun. Daerah ini termasuk dalam kawasan dataran rendah Jawa Timur Bagian Utara. Tinggi permukaan tanah hampir sama dengan tinggi permukaan air laut rata-rata dengan beda elevasi 1 – 1,5 meter, sehingga pada saat air pasang datang, permukaan air sungai dan air tambak ikut bertambah tinggi. Kondisi topografi yang landai dan bahkan bibir pantai lebih rendah dari permukaan air pasang, menyebabkan pergerakan air sungai pada saat pasang lebih lambat bahkan cenderung bergerak ke darat mangisi daerah pertambakan, persawahan dan pertanian.
Gerak yang lambat tersebut disebabkan perbedaan elevasi antara permukaan dataran rawa dan morfologi perairan pantai hampir sama, sehingga memudahkan arus pasang mendorong kembali material ke darat. Bahkan pada saat pasang tertinggi (slack maximum), air laut bergerak ke arah darat hingga ke daerah kaki perbukitan (backshore), lalu memasuki percabangan sungai dan selanjutnya akan memasuki tambak-tambak penduduk yang ada di sekitar percabangan sungai.
Kondisi saat ini memperlihatkan bahwa, aliran lumpur di sekitar daerah semburan bergerak ke segala arah karena topografi yang hampir datar. Topografi daerah Porong yang merupakan dataran rendah tersebut akan mengakibatkan aliran lumpur yang masuk ke sungai dan tambak-tambak bergerak lebih lambat. Namun karena jumlahnya sudah besar maka pergerakan ke samping bila tanggul bobol akan lebih besar.
Pergerakan ke laut akan memakan waktu yang lama, demikian pula dengan penempatan menggunakan pipa memerlukan tekanan yang lebih besar agar lumpur dapat bergerak lebih cepat sejalan dengan bertambahnya volume di waduk penampung sekitar daerah semburan Morfologi dasar laut Selat Madura dapat menggambarkan kondisi lembah bawah permukaan yang terletak pada kedalaman 20 – 60 meter. Lembah tersebut memanjang dari barat ke timur, dan makin mendalam ke arah timur hingga ke Cekungan Bali,Lembah tersebut seolah-olah menggambarkan arah pengendapan bawah permukaan dan aliran cairan di bawah permukaan dengan arah barat – timur. Pergerakan tersebut terlihat pula dari proses pergerakan sedimen mulai daerah Surabaya(alur sempit) ke arah timur hingga ke bagian tengah Selat Madura. Batimetri ini penting untuk mendapatkan kondisi dan daerah tangkapan lumpu. Secara alamiah (natural), lumpur akan mengendap di daerah lembah dengan energi yang kecil, bahkan tanpa arus 2.2. Gejala Penurunan Permukaan Tanah Daerah sekitar semburan lumpur sudah memperlihatkan gejala pergerakan menurun secara melingkar membentuk pola sesar normal. dua kemungkinan penyebab penurunan permukaan tanah, yaitu: tekanan akibat penumpukan lumpur di bagian permukaan sekitar pusat semburan dan kekosongan bagian bawah permukaan akibat terus menerusnya keluar lumpur dari dalam permukaan tanah Kondisi ini berbeda dengan Bluduk Kuwu di Purwodadi dan mud volcano di Kalang Anyar (Selatan Bandara Juanda, Surabaya) tidak banyak mengeluarkan lumpur tetapi hanya gas, sehingga tidak terjadi penumpukan di bagian permukaan dan kekosongan di bawah permukaan. Kondisi penurunan permukaan tanah sangat berbahaya bagi infra-struktur dan bangunan. Oleh sebab itu, selain rumah penduduk yang berbahaya bila ditempati, infrastruktur juga berbahaya bila tetap dipergunakan, infrastruktur juga perlu dipindahkan ke daerah yang stabil berbahaya terhadap infrastruktur dan bangunan rumah penduduk (Istadi, 2006 3. PROSES PENGENDAPAN LUMPUR 3.1. Pengendapan Lumpur di Selat Madura Berdasarkan Data Seismik Secara umum sedimen bawah permukaan di perairan Selat Madura diperoleh dari data seismik refleksi yang dikorelasi dengan data pemboran untuk memperoleh sedimen secara vertikal Hasil interpretasi seismik lintasan utara - selatan yang memotong Selat Madura yang dikorelasikan dengan data hasil pemboran inti memperlihatkan endapan lumpur (clay) yang merupakan sekuen permukaan dasar laut mencapai ketebalan 15 - 25 meter berwarna abu-abu hingga kehitaman. Hasil rekaman seismik ini memberikan gambaran tentang proses sedimentasi dan pola perlapisan sedimen permukaan. Hasil ini juga memperlihatkan bahwa lumpur di dasar laut Selat Madura makin menebal (progradation sediment), sedangkan materi makin ke atas makin halus. Bagian bawah menunjukkan pola reflektor seismik yang berbeda, hal ini menunjukkan makin ke bawah materi makin kasar. Berdasarkan karakter uji pengendapan antara lumpur Porong dan lumpur Selat Madura dalam media air laut, maka lumpur Porong lebih cepat sampai ke dasar laut, dan pada saat lumpur Selat Madura sampai di dasar laut akan menutupi lumpur Porong 3.2. Kecenderungan Kecepatan Pengendapan

 

 

Hasil uji pengendapan lumpur Porong dalam empat jenis media air (air laut Selat Madura, air S. Porong, air muara S. Porong dan air lumpur/rembesan) memperlihatkan karakteristik kecendrungan (waktu) pengendapan yang berbeda-beda, walaupun terdapat kondisi kecepatan pengendapan yang sama saat mendekati dasar (Tabel 1).

 

 

Uji pengendapan ini diharapkan paling tidak memberikan gambaran tentang karakter lumpur dalam media air dalam kondisi tanpa gangguan; dan dengan perlakukan yang sama pula. Pada 5 menit pertama lumpur lebih dahulu bergerak turun pada air S. Porong, pada air muara lumpur mulai bergerak turun, sedangkan pada media air laut Selat Madura dan air lumpur/rembesan belum terjadi pengendapan. Pada menit kesepuluh, lumpur telah bergerak pada semua media, dan pergerakan lumpur pada air S. Porong tetap lebih cepat, sedangkan pada air muara dan air lumpur hampir sama dan pada air laut lebih lambat. Namun setelah 40 menit kemudian menunjukkan kecenderungan kecepatan pengendapan yang sama dan melambat serta kekeruhan di bagian atas menghilang. Perlambatan tersebut disebabkan oleh seluruh materi lumpur sudah mulai mendekati dasar, sehingga tertahan oleh lumpur yang lebih dahulu mengendap, padahal bila di laut dengan kedalaman kolom air yang lebih besar, maka setelah 40 menit pun tentunya akan bergerak sebagaimana kecenderungan pada menit awal hingga 20 menit berikutnya, karena pada menit awal hingga 20 menit memperlihatkan kecepatan penurunan yang seirama.
Hasil ini paling tidak memberikan gambaran bahwa lumpur Porong memberikan kecendrungan bergerak ke arah dasar dan ini juga membuktikan bahwa berat jenis (BJ) lebih besar dari media semua jenis air yang diujicobakan (test laboratorium lumpur Porong BJ=1,3 gr/cc).
Untuk membandingkan kecenderungan dan karakteristik pengendapan dipergunakan lumpur yang diambil di tengah-tengah perairan Selat Madura. Lima contoh lumpur yang diambil pada lima lokasi yang berbeda. Kelima contoh tersebut seluruhnya diujicobakan pada media air laut. Hasil uji pengendapan menunjukkan kecenderungan pergerakan pengendapan lumpur lebih lambat (Foto 2). Pada satu jam pertama, proses pengendapan masih berlangsung dan kekeruhan di permukaan air sepanjang penurunan belum hilang, namun jenis lumpur hitam lebih cepat mengendap dibandingkan lumpur jenis kuning. Pengendapan dan kekeruhan benar-benar hilang setelah waktu lima jam.

 

Gambar 4. Kecenderungan kecepatan pengendapan lumpur Porong dalam media air Laut, air S. Porong, air muara S. Porong dan air lumpur/rembesan.

 

Foto 1. Uji pengendapan lumpur Porong satu jam pertama lumpur mengendap pada semua jenis air (air laut Selat Madura, air sungai Porong, air muara S. Porongdan air lumpur/rembesan).

 

Foto 2. Uji pengendapan lumpur Selat Madura menunjukkan gejala bahwa satu jam pertama lumpur belum mengendap pada air laut dan setelah satu jam kekeruhan masih kelihatan semua jenis lumpur.

Dari dua jenis lumpur (lumpur Porong dan lumpur Selat Madura) yang diendapkan dalam berbagai media air laut memperlihatkan bahwa lumpur Porong jauh lebih cepat mengendap dalam semua media air dibandingkan dengan lumpur Selat Madura. Walaupun pada uji pengendapan lumpur Porong di air laut, pengendapannya lebih lambat dibandingkan pada air S. Porong, air muara S. Porong dan air lumpur/rembesan, namun secara keseluruhan perbedaan tidak terlalu signifikan, bahkan bila dibandingkan dengan pengendapan lumpur Selat Madura, pengendapan lumpur Porong jauh lebih cepat.

 

3.3. Lokasi Akhir Pengendapan Lumpur

Seluruh benda cair dan padat di alam akan bergerak mengikuti arah gerak gravitasi, yaitu menuju ke daerah yang lebih rendah. Lumpur dan air lumpur sebagai bagian dari benda padat dan benda cair secara alamiah suatu waktu akan meluncur dan bergerak ke daerah paling rendah, yaitu: cekungan di laut. Tak terkecuali dengan benda padat (batuan), akan mengalami pelapukan, erosi dan transportasi. Lalu akan kemanakah akhir dari pergerakan tersebut, jawabannya adalah ke cekungan di dasar danau atau dasar laut. Bila ke cekungan danau, akhirnya juga ke dasar laut oleh aliran sungai yang keluar dari danau. Sedangkan di dasar sungai akan bersifat sementasa, suatu waktu apabila volume air sungai akibat curah hujan yang tinggi akan tertransport menuju ke dasar laut.

Lumpur Porong adalah jenis benda yang mudah bergerak dan mobile, karena hampir 70% adalah air dan 30% adalah padatan, sehingga perkiraan akan membentuk kerucut gunung lumpur memerlukan waktu yang lama. Apabila lumpur mencapai pantai (nearshore) maka faktor dominan yang akan mempengaruhi lumpur tersebut adalah arus sejajar pantai (longshore current) dan gelombang pecah (breaker zone) – (Komar, 1974). Akibatnya lumpur akan bergerak ke segala arah secara horizontal; sebagian ke arah pantai dan sebagian ke arah laut. Di pantai akan membentuk pantai-pantai baru dan delta muda (recent deltaic). Di laut (offshore), lumpur akan mengendap di daerah dengan gelombang dan arus yang lemah (low energy). Daerah low energy di laut dapat ditentukan dengan pengukuran oseanografi, bahkan dari indikator sedimen yang diendapkan di laut, dapat ditentukan daerah pengendapan lumpur.

Daerah low energy pada Pemetaan Penyebaran Sedimen Permukaan Dasar Laut dengan metoda grain size dari Folk (1980) ditandai oleh jenis sedimen yang berbutir halus (clay). Bila lumpur Sidoarjo ditempatkan di daerah sedimen clay, maka berarti terjadi proses resedimetation hystory, artinya mengulang kembali proses pengendapan lumpur sebelumnya. Proses ini juga terjadi di daerah nearshore, endapan lumpur akan terjadi di daerah low energy, kecuali di bibir pantai pengaruh gempuran gelombang dan longshore current cukup kuat dan lumpur akan terdistribusi di sepanjang garis pantai pada jarak yang cukup jauh.
Daerah low energy yang ditandai oleh penyebaran lempung (clay zone), umumnya mempunyai morfologi dasar laut landai dan hampir datar. Di laut yang lebih dalam, morfologi landai tersebut terbentuk diantara dua tebing atau di tengah-tengah lembah, dan sungai-sungai bawah laut akan bermuara ke arah lembah tersebut. Di perairan Selat Madura, daerah low energy dan sedimen clay terletak di bagian tengah selat sekitar 3 - 5 km dari Delta Brantas dengan kontur kedalaman antara 40 – 60 meter.

 

Gambar 5. Lokasi akhir pengendapan lumpur Porong jika lumpur dialirkan ke laut.

 

 

Apabila lumpur terlanjur memasuki daerah dengan gelombang dan arus yang kuat maka secara alamiah lumpur tersebut akan bergerak mencari daerah dengan kondisi gelombang dan arus yang lemah, namun dapat saja setelah melalui daerah yang luas, bergerak mengambang tidak beraturan, artinya tersebar ke berbagai arah secara mengambang, sebelum mengendap. Warna air laut yang semula biru akan berubah mengikuti warna lumpur. Bila warna lumpur berwarna hitam seperti warna lumpur panas Porong, maka air laut akan berwarna hitam pula.

Fenomena alam yang berbahaya terhadap pengendapan lumpur di laut adalah apabila terjadi perubahan pola oseanografi secara regional, misalnya angin, gelombang dan arus pasang surut dengan besaran yang lebih besar dari biasanya. Fenomena semacam ini dapat saja terjadi karena siklus tahunan, lima tahunan dan seterusnya (Wyrtki, 1961). Namun perubahan terhadap pola pengendapan lumpur dan bentuk morfologi dasar laut tidak terlalu signifikan, karena hanya terjadi di permukaan. Perubahan justru akan terlihat di garis pantai apabila fenomena tersebut berlangsung lebih lama, lumpur yang sudah mengendap akan tersapu oleh terjangan gelombang besar ke arah yang lebih jauh dan sulit dekendalikan.
Kondisi ini dikhawatirkan dapat merubahan ekosistem nearshore secara luas, karena pada perairan pantai yang banyak mengandung lumpur akan terjadi perubahan pada salinitas, konduktifitas, temperatur, kandungan oksigen dan zat terlarut lainnya.

 

3.4. Lokasi Pengendapan Akhir Lumpur Muara S. Brantas

Lingkungan Muara Delta Brantas merupakan lingkungan khas delta (estuary) yang merupakan daerah tansisi antara lingkungan darat (sungai) dan laut. Muara Delta Brantas terletak sekitar 15 – 18 km dari lokasi Semburan Lumpur, daerah ini dikenal pula sebagai daerah perairan laut dangkal (nearshore) membentuk delta Brantas. Karakteristik daerah ini adalah pergerakan arus sejajar pantai dari arah barat ke timur, ketinggian gelombang berkisar antara 0,5 – 2 meter, di pantai umumnya merupakan sedimen lumpuran dan tumbuhan bakau, sebagian dijadikan lahan pertambakan. Arus pasang surut dan gelombang berasal dari timurlaut terlihat dari bentuk muara Sungai Brantas dari arah selatan ke utara sedikit membelok ke baratlaut.

Jika penempatan lumpur dilakukan di perairan pantai (nearshore), maka faktor yang umum mempengaruhi pengendapan lumpur adalah gelombang dan arus sejajar pantai (longshore current). Bila lumpur sampai di pantai dalam jumlah besar maka akan segera mendapat terjangan gelombang, sehingga lumpur bercerai-berai dan selanjutnya mengalir sejajar pantai menutupi seluruh permukaan pantai, termasuk biota pantai (bakau, lamun, terumbu dan binatang reftil). Angin barat yang bertiup dengan kecepatan di atas 10 knots akan mampu membangkitkan gelombang dan menggerakkan lumpur dalam bentuk suspended sediment ke arah timur. Bila dalam jangka waktu yang lama dapat menjangkau pantai utara Situbondo. Bila lumpur tersebut dapat dikendalikan dalam radius tertentu sebelumnya maka endapan lumpur akan membentuk dataran pantai baru membentuk lahan baru untuk budidaya pesisir.
Dampak negatif yang mungkin timbul di nearshore adalah terjangan gelombang di atas 2 meter dan arus yang semakin kuat mengakibatkan lumpur mengambang dan bergerak ke segara arah. Bila ini terjadi maka diperkirakan pantai-pantai bagian utara Jawa Timur (selatan Selat Madura) seperti pantai Sidoarjo, Pasuruan, Purbolinggo dan Situbondo akan tertutup oleh lumpur dan terjadi kerusakan pada lahan hutan mangrove, lamun, terumbu karang, permukiman nelayan dan pendangkalan kolam pelabuhan. Agar tidak terkena pengaruh gelombang pecah, maka perlu pembuatan tanggul pelindung. Namun persoalannya, jika semburan berlangsung lebih lama, maka perlu membuat tanggul pantai lagi. Dengan demikian pengendapan di pantai tetap bersifat sementara.

Dasar Laut Selat Madura (Seafloor of Madura Strait)
Terletak sekitar 18 - 22 km dari lokasi Semburan Lumpur Panas, atau sekitar 3 – 5 km dari garis pantai. Karekteristik daerah ini adalah kedalaman 20 – 40 meter, di bagian tengah selat dapat mencapai 60 meter. Pergerakan arus permukaan berasal dari bagian tengah Selat Madura ke arah barat dan selatan hingga menjangkau pantai selatan Selat Madura terutama pada saat pasang maksimal (slack). Sedimen dasar laut di bagian tengah Selat Madura adalah clay, sehingga bila lumpur Sidoarjo diendapkan di daerah clay maka lumpur tersebut akan segera menyatu dengan clay yang sudah terlebih dahulu mengendap.
Seperti telah disebutkan di atas, daerah offshore yang baik untuk pengendapan lumpur adalah pada morfologi landai, daerah lembah bawah laut (sub-surface depression zone) atau pada daerah saluran/sungai bawah permukaan (sub-surface channel) dengan arah arus/aliran ke sub-surface depression zone. Arus pasang surut harus lebih kecil dari kecepatan gerak turun (gravitasi) sedimen ke arah dasar laut. Untuk mengetahui daerah yang dimaksud dapat menggunakan peta batimetri dengan melihat pola kontur yang renggang, arus pasang surut kecil (hasil pengukuran float tracking di lapangan) dan sebaran sedimen di daerah tersebut harus clay. Hasil penelitian geologi kelautan PPPGL di perairan Selat Madura, daerah yang relatif aman untuk penempatan lumpur adalah pada kedalaman 20 – 60 meter dengan sedimen adalah clay. Hasil uji pengendapan langsung lumpur Sidoarjo di air laut memperlihat kecepatan pengendapan lebih cepat dari pengendapan di air tawar.

Dampak negatif yang mungkin timbul adalah bila penetrasian bahan kimia berbahaya tidak berjalan sempurna baik akibat faktor teknologi maupun faktor manusia, kerusakan/kebocoran pipa dan penyumbatan pada ujung pipa. Dampak negatif lainnya adalah perubahan pola oasenografi (angin, gelombang dan arus) karena fenomena alam. Bila dampak tersebut terjadi, maka penempatan lumpur harus dihentikan dan dicari penyebabnya. Bila diteruskan akan berdampak pada kerusakan lingkungan/ekosistem perairan dan menurunnya hasil perikanan nelayan. Oleh sebab itu, bila offshore dipilih sebagai lokasi penempatan lumpur, maka daerah ini harus selalu dipantau.

 

4. DISKUSI:

Ada dua langkah yang harus dilakukan setelah daerah semburan dinyatakan sebagai daerah rawan bencana, yaitu: (1) pengelolaan dan pengendalian lumpur Porong agar meluber dan mengalir secara terkendali ke lokasi parmanen dan (2) merelokasi masyarakat sekitar semburan ke tempat yang layak dan aman secara parmanen.

 

4.1. Pengelolaan dan Pengendalian Lumpur Porong

Setelah dinyatakan sebagai daerah rawan bencana, maka seluruh aktifitas manusia di lokasi semburan harus dihentikan termasuk kegiatan Relief Well dan kegiatan pemboran lanjutan. Daerah rawan bencana adalah daerah bahaya dan atau daerah bakal terjadi bencana, maka daerah tersebut harus dikosongkan. Pengelolaan dan pengendalian lumpur Porong agar meluber dan mengalir secara terkendali ke lokasi parmanen adalah dengan cara penataan luberan agar tidak menjangkau daerah yang lebih luas. Langkah ini adalah dengan mengalirkan lumpur dan air lumpur tersebut ke laut (pantai dan dasar laut). Cara mengalirkan ke laut (melalui sungai atau pipa) perlu dikaji lebih jauh agar tidak menimbulkan masalah baru. Apabila dialirkan melalui sungai, maka perlu saluran dari semburan ke arah sungai dan tanggul di sekitar desa tetap dipertahankan. Lumpur di sekitar pusat semburan dapat dibiarkan mengering secara alami membentuk kubah atau kerucut, untuk memberi kesempatan terbentuknya gunung lumpur muda (modern mud volcano).

Saat ini modern mud volcano merupakan fenomena langka di dunia, hanya terjadi di beberapa tempat, sehingga bila berkembang dengan baik tentunya akan menjadi objek wisata yang menarik. Disamping itu, agar lumpur tersebut bermanfaat, maka perlu dipertahankan kolam pengendali, yaitu penampungan sementara agar tidak seluruh lumpur dialirkan ke laut. Sebagian dikeringkan untuk memperoleh padatan yang nantinya dimanfaatkan untuk industri batubata, keramik dan bahan urugan pantai.

 

4.2. Relokasi Masyarakat

Daerah semburan lumpur Porong yang mencakup beberapa desa telah dinyatakan sebagai daerah rawan bencana, dengan demikian maka lokasi tersebut tidak layak ditempati. Daerah semburan secara geologi telah menjadi daerah labil karena telah terjadi gerak turun (amblasan), baik akibat tekanan dari atas (beban) maupun akibat kekosongan di bagian bawah tanah akibat terus keluarnya lumpur. Pola struktur patahan bawah purmukan yang terdapat di sepanjang jalur semburan sewaktu-waktu dapat muncur semburan baru seperti yang terjadi di desa Jatirejo tanggal 7 September 2006.
Kondisi ini sangat membahayakan terhadap infrastruktur dan bangunan rumah penduduk. Disamping itu, karena pengaruh air lumpur yang mengandung garam, telah terjadi juga perubahan kimia tanah di sekitar semburan dan genangan lumpur/air lumpur yang mengakibatkan lahan tidak subur. Kandungan air garam tersebut kemungkinan telah mempengaruhi konstruksi jalan (termasuk KA) dan bangunan rumah. Oleh sebab itu, tidak ada pilihan lain, yaitu merelokasi masyarakat sekitar semburan ke tempat yang layak dan aman secara parmanen.

 

5. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, dan setelah dinyatakan sebagai daerah rawan bencana, maka perlu dilakukan pengosongan daerah semburan lumpur dan penetapan batas daerah rawan bencana. Kemanapun lumpur Porong akan ditempatkan (sungai, muara dan laut) tetap mengandung resiko, namun perlu dikaji lebih jauh mengenai tingkat resiko tersebut.

Harus diperhitungkan pula bahwa semburan lumpur akan berlangsung lebih lama dari perkiraan. Namun agar lumpur meluber secara terkendali perlu pembuatan saluran lumpur ke sungai dan memperkuat tanggul di sekitar desa agar tidah meluas. Penempatan lumpur lumpur di darat atau di pantai adalah bersifat sementara karena bila penuh, maka lumpur akan meluber dan mengalir ke lokasi yang lebih rendah lagi (laut). Oleh sebab itu, penempatan ke laut kiranya merupakan pemikiran jangka panjang (parmanen), dan saat ini infrastruktur pipa untuk penempatan ke laut memang sudah terpasang dan perlu difungsikan.

Jika penempatan di laut, maka lokasi yang memenuhi persyaratan teknis adalah di bagian tengah Selat Madura, terutama di daerah low energy dan morfologi yang datar pada kedalaman 20 – 60 meter, dengan catatan pemindahan dari bibir pantai ke dasar laut harus melalui pipa.
Jika memang nyawa manusia jauh lebih penting dari nyawa ikan, maka langkah dan pilihan apapun harus dilakukan secara terencana. Alam telah mengajarkan kepada manusia agar kembali ke hukum alam itu sendiri, bahwa fenomena alam akan mengikuti hukumnya sendiri dan pada suatu saat akan menciptakan keseimbangan

Leave a comment

Full HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.