MUNCULNYA PULAU BARU DI PERAIRAN PANTAI BANGKALAN, MADURA, BUKAN FENOMENA GEOLOGI

Oleh:

Prijantono Astjario,  Joni Widodo,  Jemi Gojali, Arif Ali, Ferry Siboro dan S. Lubis

Puslitbang Geologi Kelautan (PPPGL)

Berita munculnya pulau baru di perairan pantai Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, Madura, pada pertengahan bulan Januari 2013 ini, telah mengundang polemik yang berkepanjangan terutama pada para pegiat jejaring sosial, media masa, situs dan blog internet. Bahkan, penduduk setempat telah memberikan beberapa nama untuk pulau baru atau tangkis laut ini diantaranya: Pulau Ajaeb, Pulau Karang dan Takat Emas,  karena kemunculannya yang tiba-tiba dan berada di sekitar daerah yang dikeramatkan yaitu di seberang lahan pemakaman umum (Merdeka.com, Maduraterkini.info, dsb.).

Sampai saat ini, masyarakat setempat masih mempercayai bahwa kemunculan pulau baru ini adalah pertanda akan munculnya bencana atau malapetaka yang akan menimpa desa mereka. Walaupun telah banyak pendapat dan komentar beberapa saksi mata baik dari kalangan pemuka masyarakat, ilmuwan, dan masyarakat awam yang secara langsung telah menyaksikan keberadaan pulau tersebut, namun masih menyisakan teka-teki dalam menjelaskan mekanisme logis atau proses terbentuknya pulau tersebut.

Beberapa pendapat dari kalangan masyarakat awam mempercayai bahwa kejadian ini merupakan kejadian langka yang menyiratkan kepercayaan mistik karena hanya terjadi dalam satu malam saja.  Pendapat lain dari beberapa ilmuwan (walaupun belum ditunjang data, fakta, alasan logis, ataupun  hasil kajian saintifik), menduga-duga sebagai salah satu fenomena geologi yang dikait-kaitkan dengan geologi zona  Rembang yang dikenal sebagai kawasan terangkat (continued uplift).  Ciri zona Rembang adalah bentuk pola struktur lipatan berarah barat-timur yang melampar dari Jawa Tengah bagian utara sampai ke Madura.  Selain itu, muncul juga dugaan adanya kegiatan mud volkano yang aktif kembali atau fenomena gunung lumpur jika dikaitkan dengan dengan kejadian lahirnya gunung lumpur Sidoarjo, dan gunung lumpur di Gresik, Jawa Timur, beberapa waktu yang lalu yang kebetulan berada pada zona satuan tektonik geologi  yang sama yaitu puncak struktur lipatan (antiklin). 

Tentu saja berbagai dugaan dan komentar ini perlu didukung oleh fakta atau ciri-ciri fisik paska pembentukannya. Salah satu upaya untuk memperoleh data pendukung fenomena "terangkatnya" pulau ini adalah harus ditemukannya indikasi struktur geologi atau deformasi batuan yang lazim terbentuk di permukaan bumi, misalnya rekahan (fracture), kekar (joint), atau sesar (fault) pada bagian sayap suatu daerah pengangkatan.  Munculnya mata air, rembesan gas, atau bahkan luapan lumpur dari dalam bumi juga merupakan ciri fisik yang signifikan mendukung adanya gejala geologi sebagai penyebabnya.  Oleh sebab itulah, untuk menjawab teka-teki ini beberapa ilmuwan geologi (IAGI-net) menyarankan agar dilakukan penelitian langsung di bagian sayap atau dasar laut di sekitarnya, baik menggunakan peralatan geofisika bawah air atau secara visual langsung oleh para penyelam saintifik.

Puslitbang Geologi Kelautan (P3GL) berkerjasama dengan instruktur selam Bp. Jemi Gojali dari Persatuan Olah Raga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Pengprov Jabar, dan Prof. Ris. DR. Ir. Hardi Prasetyo (Wakil Kepala Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) pada tanggal 1 Februari 2013, telah melaksanakan kunjungan dan pengamatan di lokasi munculnya pulau baru tersebut.

Suatu kebetulan, bahwa pada saat pengamatan ini kondisi muka laut berada pada kondisi surut, sehingga berbagai ciri-ciri fisik proses pembentukan pulau baru tersebut dapat secara langsung diamati.  Pada saat itu, kegiatan penyelaman tidak mungkin dilaksanakan mengingat visibiliti atau jarak pandang di air laut sangat terbatas hanya sekitar 0,5 meter, dan lokasi penyelaman berada pada perairan dangkal dengan kedalaman hanya sekitar 1-2 meter.  Walaupun demikian, beberapa ciri fisik dari proses pembentukan pulau serta karakteristik materialnya dapat dikenali dengan baik.

Ciri Fisik Yang Ditemukan

Beberapa ciri fisik yang diamati di permukaan memperlihatkan bahwa pulau baru ini secara signifikan bukan dibentuk oleh proses geologi, karena tidak satupun ciri-ciri fisik gejala geologi seperti deformasi batuan, lineasi struktur yang ditemukan pada tubuh pulau ataupun di permukaan tanah sekitarnya.  Oleh sebab itu, pengamatan fisik yang dilakukan adalah mengenal ciri-ciri proses pantai dan karakteristik dari material yang membentuk pulau tersebut, diantaranya:

  • Bentuk pulau baru ini memanjang berarah timur-barat, kecuali bagian ujung-ujung pulau  berbentuk melengkung kearah selatan.  Luas pulau baru ini dihitung dari data hasil pengukuran Global Positioning System (GPS) pada garis pantai baru adalah sekitar  5.800 m2 atau 0,58 hektar, panjang pulau 224 m, lebar rata-rata 25 m merupakan daratan baru yang terbentuk dari dari timbunan material rombakan koral dengan berbagai ukuran. Ketinggian punggung pulau ini sekitar 3,2 m di atas datum sebagai basemen pulau.  Basemen pulau baru yang muncul ke permukaan laut pada saat surut merupakan rataan terumbu di bawah permukaan laut rata-rata berbentuk memanjang sekitar 400 m. 
  • Basement (bagian dasar) dari pulau baru ini adalah dasar lautnya sendiri (existing seabed) yang merupakan lamparan rombakan koral yang terdiri dari bongkah, kerakal, kerikil dan pasir yang tersusun dan tersortasi baik, sedangkan tubuh pulau terdiri dari timbunan material yang sama tetapi tidak tersusun baik.

  • Pada material pembentuk pulau ini banyak ditemukan bongkahan terumbu koral mati (jenis Acropora) ukuran besar sampai diameter 1,3 m menyerupai bentuk jamur tetapi pada posisi yang terbalik, yaitu bagian akar dan batang berada di atas sengkan bagian mahkotanya berada di bawah, seolah-olah telah terdorong dan terangkut dari tempat asalnya (bukan bongkah insitu).

  • Bentuk susunan material di bagian tepian utara pulau memperlihatkan ukuran bongkah besar,  makin ke atas ukuran material semakin halus namun tidak tersusunan secara seragam (mencirikan energi flux gelombang pengangkutnya relatif besar), sedangkan di tepian bagian selatan umumnya ditutupi oleh material berukuran kerakal, kerikil, dan pasir kasar dengan susunan yang lebih beraturan dan tersortasi baik (mencirikan energi flux gelombang pengangkutan yang relatif lebih kecil).

  • Material pada ujung-ujung pulau ini berbentuk lengkung, diduga merupakan material yang terangkut oleh gelombang difraksi, dicirikan oleh adanya pola penyusunan material berukuran pasir kasar yang melengkung menyerupai struktur lidah pasir (spit).

  • Pada saat yang sama, sebagian tepian pantai Madura di sekitar pulau ini mengalami erosi pantai secara besar-besaran, terindikasi sekitar 2-3 m lahan pemakaman telah hilang terabrasi.

  • Ditinjau dari bentuk lereng pantai, jenis material penutup, serta susunan material pembentuk pulau ini, maka dapat dikenali adanya ciri-ciri fisik satuan morfologi pantai depan (foreshore) tersusun oleh material kasar yaitu di bagian utara tepian daratan dan satuan morfologi pantai belakang (backshore) yang terletak di tepian bagian selatan yang tersusun oleh material lebih halus. Dengan demikian, diduga bahwa proses pantai atau "littotal drift" merupakan penyebab utama terbentuknya pulau baru ini.

Rekaan Pembentukan Pulau

Mengacu pada ciri-ciri fisik yang ditemukan di permukaan pulau dan kawasan sekitarnya, maka secara logis  dapat dikemukakan beberapa kemungkinan yang menjadi dugaan kuat penyebab terbentuknya pulau ini, yaitu:

  • Bahwa munculnya pulau baru ini bukan merupakan fenomena geologi, tetapi akibat interaksi antara pasang laut pada saat spring dengan aksi gelombang ekstrim pada Monsun Barat, sehingga melipat-gandakan energi flux gelombang yang sampai ke pantai sehingga mengakibatkan perubahan "littoral drift" secara besar-besaran. Material dasar laut berukuran bongkah - pasir kasar yang terangkut selanjutnya tertumpuk membentuk timbunan diatas rataan terumbu. Dimensi tumpukan material ini membentuk daratan baru yang memanjang, yang selanjutnya oleh penduduk setempat memberi nama Pulau Ajaeb atau Pulau Karang atau Takat Emas.  Hasil pemetaan garis pantai menggunakan GPS yang ditumpangkan (overlay) pada Peta Satelit Google-maps, memperlihatkan bahwa posisi pulau ini berada tepat di atas rataan terumbu koral yang merupakan dangkalan. Hasil pengamatan visual menggunakan snorcling, memperlihatkan bahwa dangkalan ini terdiri dari material karang mati berukuran bongkah sampai pasir kasar, sehingga aksi gelombang ekstrim memungkinkan merubah morfologi dasar laut dangkalan ini 
  • Data meteorologi dan oceanografi pada saat kejadian sangat mendukung dugaan ini, yaitu terjadinya puncak "spring tide" pada tgl. 13-15 Januari 2013, dan cuaca ekstrim yaitu hujan lebat, angin kencang dan gelombang badai (hampir bersamaan waktunya dengan kejadian hujan ekstrim dan banjir besar di Jakarta tgl 16-17 Januari 2013).  Aksi gelombang ekstrim pada saat puncak pasang terjadi pada tgl 15 Januari 2013 malam, yang diduga telah memicu "littoral drift" yang ekstrim pula yaitu terangkutnya material dari dasar laut dan disertai dengan munculnya timbunan rombakan koral baru dengan ketinggian sekitar 3,2 meter dari rataan terumbu yang menjadi dasar (basemen) pulau, panjang 224 m, dan lebar sekitar 25m.  Oleh sebab itu, penulis meyakini bahwa pulau baru ini tidak terbentuk hanya dalam satu malam saja, tetapi merupakan proses yang berkesinambungan. Diperkirakan bahwa selama cuaca ekstrim Monsun Barat pada saat "spring tide" yaitu antara antara tgl 10-17 Januari 2013 proses pantai ini jauh lebih intensif, sehingga mencapai puncaknya, dan setelah itu berangsur-angsur melemah kembali.
  • Selain  membentuk pulau baru, aksi gelombang ekstrim ini juga telah mengabrasi garis pantai daratan Madura yang terletak di belakangnya, terutama di pantai lahan pemakaman umum yang mundur sekitar 2-3 meter. Walaupun merupakan kejadian langka, fenomena "littoral drift" ekstrim semacam ini juga pernah terjadi dan tercatat di pantai Kuta-Bali (1985), pantai barat Bengkulu (1991), pantai Grati-Jawa Timur (1994), pantai timur Lhokseumawe-Aceh (2001), dsb.

Proses Pantai Jangka Panjang

Munculnya daratan baru secara alamiah ini telah merubah keseimbangan proses pantai di sekitarnya terutama mekanisme "littoral drift", karena daratan ini telah beralih fungsi sebagai "groyn" atau "pemecah gelombang" (break water). Walaupun keberadaan pemecah gelombang ini lazimnya akan berfungsi sebagai pelindung pantai terhadap abrasi gelombang, namun akan membawa konsekuensi bencana baru yaitu terjadinya gelombang difraksi yang akan mengabrasi pantai di sekitarnya secara besar-besaran.  Dalam prediksi jangka panjang, aksi gelombang difraksi ini akan membentuk akumulasi sedimen yang berasal dari kedua sisi daratan sehingga terjadi proses pendangkalan (shoaling effect). Selanjutnya,  proses pendangkalan ini akan membentuk gumuk pasir atau "sand dune" yang menghubungkan daratan ini dengan daratan pantai Madura yang dikenal sebagai efek tombolo.

Dalam nomenklatur pulau-pulau kecil, bentuk daratan seperti ini tidak bisa diklasifikasikan sebagai pulau kecil permanen, karena jika fenomena gelombang ekstrim ini muncul kembali  secara berkala, kemungkinan daratan ini akan berubah bertambah besar atau bahkan akan hilang kembali sebagai "tidal elevation". Dengan demikian, pulau ini tidak akan bertambah tinggi atau berkembang lagi, kecuali jika terjadi interaksi cuaca ekstrim dan pasang tinggi yang lebih kuat dari proses "littoral drift" yang terjadi pada pertengahan Januari 2013 yang lalu.

Ucapan terima kasih

Kami sampaikan ucapan terima kasih kepada DR. Susilohadi, Kepala Puslitbang Geologi Kelautan atas kepercayaan melakukan pengamatan lapangan,  Prof. Hardi Prasetio, Wakil Ketua BPLS, atas arahan serta penjelasan tentang perkembangan tektonik regional Madura;  Bp. Supriyadi, Kepala Desa Labuhan; Bp. Sunandar; dan Bp. Amsuro atas ijin, informasi terkait, serta memandu selama kami melakukan pengamatan di lapangan.

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish

Who's online

There are currently 1 user and 2 guests online.

Online users

  • admin

Tugas

Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan mempunyai tugas melaksanakan penelitian, pengembangan, perekayasaan, pengkajian, survei dan pemetaan bidang geologi kelautan.

RSS Feed

Syndicate content

Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No. 18 Tahun 2010, tanggal 22 November 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, PPPGL merupakan salah satu unit yang berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral.  Struktur organisasi PPPGL terdiri dari :

  1. Bagian Tata Usaha;
  2. Bidang Program;
  3. Bidang Penyelenggaraan dan Sarana Penelitian dan Pengembangan;
  4. Bidang Afiliasi dan Informasi; dan
  5. Kelompok Jabatan Fungsional.

Kelompok Pelaksana Penelitian dan Pengembangan ( KP3 ) terdiri dari :

  • Sumber Daya Geologi Kelautan
  • Pemetaan Geologi Kelautan
  • Lingkungan dan Kebencanaan Geologi Kelautan
  • Kajian Teknis Bidang Geologi Kelautan

Kalender Kegiatan

  • No upcoming events available